Source: http://amronbadriza.blogspot.com/2012/05/cara-membuat-tab-view-di-blog.html#ixzz2EU7pdnWj
Diberdayakan oleh Blogger.

Jagalah Persatuan dengan Akhlak Mulia [Nasihat Al-'Allamah Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi hafizhahullah untuk Salafiyin]



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
[Pertama] Aku wasiatkan kepada kalian wahai Ikhwah untuk bertakwa kepada Allah tabaraka wa ta’ala,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan selalu memberikan jalan keluar baginya dan memberikan rizki dari arah yang tidak ia sangka.” [Ath-Tholaq: 2-3]
Dalam masalah apapun, jika engkau bertakwa kepada Allah ta’ala niscaya Allah akan memberikan kepadamu kelapangan dan jalan keluar, yaitu kelapangan di dunia dan akhirat. Dengan takwa, engkau akan selamat dari kemarahan dan kemurkaan Allah ta’ala, dan di akhirat engkau selamat dari azab-Nya. Dengan takwa, Allah ta’ala menyiapkan untukmu surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang telah Allah ta’ala siapakan bagi orang-orang yang bertakwa,

Tiga Cara yang Paling Jitu dalam Menuntut Ilmu


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Faqihul ‘Ashr Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:
س: سئل فضيلة الشيخ- رحمه الله-: ما أحسن وسيلة لتلقي العلم النافع؟
فأجاب بقوله: الوسائل مختلفة وهي كثيرة- والحمد لله- في الوقت الحاضر.
فمن الوسائل: أن تتلقى العلم على شيخ مأمون في علمه ودينه، وهذه أحسن الوسائل وأقوى الوسائل، وأقرب الوسائل إلى تحصيل العلم.
ومن الوسائل: أن تتلقى العلم من الكتب المؤلفة التي ألفها علماءمأمونون موثوقون في علمهم ودينهم.
ومن الوسائل: أن تستمع إلى الأشرطة المنشورة من العلماء الموثقين بعلمهم وأماناتهم، هذه ثلاث طرق يمكن أن يحصل بها العلم، وأهم شيء هو الاجتهاد والمثابرة وحسن القصد فإن ذلك منأسباب حصول العلم.
Pertanyaan: Sarana apakah yang terbaik dalam menuntut ilmu yang bermanfaat?
Jawaban: Sarana-sarana menuntut ilmu banyak bentuknya di zaman modern ini, walhamdulillah. Diantaranya:
[Pertama] Engkau menuntut ilmu dari seorang guru yang terpercaya dalam ilmu dan (amal) agamanya. Dan ini adalah sarana terbaik, terkuat dan terdekat untuk meraih ilmu.
[Kedua] Engkau menuntut ilmu dari kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama yang amanah lagi terpercaya dalam ilmu dan agama mereka.
[Ketiga] Engkau menuntut ilmu melalui kaset-kaset yang disebarkan para ulama yang terpercaya dalam ilmu dan amanah mereka.
Inilah tiga cara yang memungkinkan untuk meraih ilmu. Dan yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah:
[1] Kesungguhan,
[2] Sabar dalam menuntut ilmu secara terus menerus,
[3] Niat yang baik.
Inilah sesungguhnya diantara sebab untuk meraih ilmu.
[Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah, 26/148 no. 50]

Menyebarkan Aib Seseorang yang Masih Layak Dinasehati Secara Tertutup (Adalah Bentuk Fanatisme Terselubung)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahuLlahu ta’ala
Seorang yang berilmu bisa jadi mengetahui kesalahan saudaranya yang juga berilmu, maka tatkala dia bersegera mengingkari dan menjatuhkan saudaranya, padahal dia mampu menasihatinya dengan baik, dan juga dia mengetahui bahwa saudaranya yang bersalah akan menerima nasihat, maka ini termasuk menyebarkan aib yang tidak bisa diterima.
Cara yang ditempuhnya berupa celaan (jarh) dan penyebaran aib saudaranya adalah bentuk fanatisme terselubung (ta’ashshub khafi) terhadap diri sendiri dan hawa nafsu.
Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam kitabnya “Ath-Thuruq Al-Hukmiyah” (hal. 58):
“Dan diantara bentuk kecerdasan yang mendalam adalah engkau tidak menyebarkan kesalahan seorang yang ditaati di tengah-tengah manusia, sehingga engkau malah membawanya semakin terjerumus dalam kesalahan, maka itu adalah kesalahan kedua. Akan tetapi hendaklah engkau sampaikan kepadanya dengan penuh kelembutan, sehingga orang lain tidak mengetahui kesalahannya.”

JAWABAN TERHADAP MEREKA YANG MAU KELUAR DARI AHLUS SUNNAH KARENA ADANYA PERPECAHAN ANTARA AHLUS SUNNAH [SEBUAH PELAJARAN DARI KISAH NYATA]


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah membimbing para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk dapat mengetahui diantara sebab jauhnya manusia dari kebenaran dan semakin tersebarnya kebatilan adalah karena adanya perpecahan diantara Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Dan hal itu diperparah dengan keberadaan pihak-pihak tertentu yang memang sengaja memicu, mengobarkan dan merawat perpecahan tersebut. Inilah beberapa peringatan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah di masa ini:
Syaikhunasy Syaikh Al-’Allamah Robi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata,
 ونشأ أناس لا يفهمون السلفية على وجهها يزعم أحدهم أنه سلفي ثم لا تراه إلا وهو يقطع أوصال السلفية لسوء سلوكه وسوء المنهج أو المناهج السيئة التي انتشرت وتهدف إلى تفريق السلفيين وتمزيقهم
السلفية تحتاج إلى عقلاء تحتاج إلى رحماء تحتاج إلى حكماء تحتاج قبل ذلك إلى علماء فإذا كانت هذه الأمور ليست موجودة في السلفيين فأين تكون السلفية ؟ تضيع بارك الله فيكم
“Dan telah muncul (di tengah-tengah Salafiyin), orang-orang yang tidak memahami Salafiyah secara hakiki, tetapi setiap mereka menyangka bahwa ia seorang Salafi, kemudian engkau tidak melihatnya kecuali ia selalu memutuskan hubungan antara Salafiyin, karena kejelekan akhlaknya dan kejelekan manhajnya atau tersebarnya manhaj-manhaj yang jelek untuk memecah belah dan mencerai-beraikan Salafiyin.
Salafiyah membutuhkan orang-orang yang berakal, penyayang, memiliki hikmah, dan yang lebih penting, membutuhkan para ulama. Maka apabila perkara-perkara ini tidak ada di tengah-tengah Salafiyin, AKAN KE MANAKAH SALAFIYAH? AKAN HILANG. Semoga Allah ta’ala memberkahi kalian. [Transkrip Nasihat: Jagalah Persatuan dengan Akhlak Mulia]
Syaikhunasy Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi hafizhahullah berkata,
“Apa yang mereka lakukan ini telah mengakibatkan munculnya perkara yang sangat berbahaya dalam barisan umat yang satu; dalam barisan para pengikut manhaj yang satu:
  1. Mengakibatkan kepada saling dengki antara Ahlus Sunnah
  2. MENGAKIBATKAN TERHALANGNYA MANUSIA DARI DAKWAH AHLUS SUNNAH.
  3. Mengakibatkan jeleknya nama baik manhaj Salafi
  4. Mengakibatkan celaan dan hinaan terhadap sebagian orang-orang yang berlimu, yang memiliki jasa besar dalam berkhidmah terhadap As-Sunnah An-Nabawiyah
  5. Mengakibatkan perselisihan yang besar.
Dan jika engkau tanyakan tentang hakikat permasalahan yang sebenarnya maka tidaklah engkau dapati kecuali kegaduhan seperti penggilingan yang berputar, burung yang berkicau, omongan kosong dan sedikitnya rasa malu dari orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu, yang menyibukkan diri dalam memecah belah antara manusia.” [Transkrip Nasihat: Sebab-sebab Perpecahan Antara Ahlus Sunnah]
 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah berkata,
“Kecemburuan terhadap Islam tidaklah akan terealisasi dengan benar kecuali dengan kecemburuan terhadap para da’i pembawa Islam, sebab Islam tidak akan mungkin dikenal kecuali dengan para da’i tersebut. Maka membicarakan kejelekan para da’i tersebut menafikan kecemburuan yang benar.
Dan diantara prinsip Ahlus Sunnah adalah tidak mencela para sahabat dikarenakan adanya rekomendasi dari Allah dan Rasul-Nya untuk mereka. Demikian pula membicarakan kejelekan orang-orang yang berilmu, yang dikenal dengan kejujurannya pada umat, ketakwaannya dan ittiba’nya kepada minhaj nubuwwah.
Sesungguhnya Allah ta’ala telah men-ta’dil mereka secara umum, dan Allah jadikan mereka sebagai perantara untuk menyampaikan kebenaran dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dan Allah ta’ala menjadikan mereka sebagai hujjah atas manusia. Maka orang yang mencela mereka tidaklah dapat dikatakan sebagai orang yang cemburu terhadap Islam.
Bahkan yang pantas dikatakan kepadanya, bahwa sesungguhnya dengan celaannya kepada orang-orang yang berilmu maka dia telah mengundang peperangan Allah terhadap dirinya. Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6502)
Dan juga, MENCELA ORANG-ORANG YANG BERILMU BERARTI MEMBUKA PINTU UNTUK TIDAK DITERIMANYA ILMU MEREKA OLEH UMAT, DAN UMAT PUN TIDAK MERUJUK KEPADA MERAKA. Maka yang terjadi, kebatilan akan mendominasi kebenaran, tersebarlah hal itu di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga ahlul bid’ah pun semakin bebas menyebarkan kesesatannya.

Semut dan ikan pun turut berdoa


Oleh Ustadz Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai
Pembaca,rahimakallahu…
            Berbondong gelombang demi gelombang langkah kaki diarahkan. Ayunan tangan turut menyertai setiap hembusan nafas manusia-manusia hebat di atas hamparan bumi. Jarak bukanlah penghalang walau jauh tak terkira. Panas dan hujan bagi mereka adalah sahabat dekat. Terik matahari tidak mereka hiraukan. Ya,manusia-manusia hebat itu. Ada apa dengan mereka?

Hijrah Ke Madinah


Ketika Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Madinah, bahkan berkembang pesat di kota itu, Rasulullah kemudian mengijinkan kaum muslimin yang ada di Makkah untuk berhijrah.
Persiapan
Islam semakin berkembang di Madinah.

Hijrah Ke Madinah


Ketika Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Madinah, bahkan berkembang pesat di kota itu, Rasulullah kemudian mengijinkan kaum muslimin yang ada di Makkah untuk berhijrah.
Persiapan
Islam semakin berkembang di Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kemudian mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah ke kota tersebut. Maka merekapun bersegera mempersiapkan diri. Orang pertama yang direncanakan berangkat adalah Abu Salamah bin Abdul Asad dan isterinya Hindun binti Abi Umayyah (Ummu Salamah) radhiallahu ‘anhuma. Namun takdir Allah menentukan lain, Ummu Salamah tertahan di Makkah. Namun akhirnya dia keluar satu tahun kemudian bersama puteranya Salamah diiringi ‘Utsman bin Abi Thalhah yang ketika itu belum masuk Islam.

Kisah Bai’at di ‘Aqabah


Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Beberapa orang suku Khazraj dari Madinah ketika melakukan ibadah haji bersedia menerima dakwah Rasulullah. Mereka bersedia menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sebelumnya telah mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa akan datang seorang Nabi. Ketika Nabi itu benar-benar datang, mereka pun beriman kepadanya, sementara orang-orang Yahudi malah mengkufurinya.

Peristiwa yang Terjadi Sebelum Hijrah Ke Madinah


 Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Peperangan Bangsa Rum (Romawi) dan Persia
Secara ringkas, kami paparkan sebagian sejarah tentang bangsa Romawi dan Persia yang diceritakan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya (3/514-515). Beliau mengatakan:
Bangsa Rum adalah keturunan Al-‘Aish bin Ishaq bin Ibrahim, saudara sepupu Bani Israil. Dinamakan pula dengan Bani Al-Ashfar.

Kisah Nabi Hud ‘alaihissalam


 Al-Ustadz Idral Harits
Allah Ta’ala mengutus Nabi Hud ‘alaihissalam kepada bangsa ‘Aad, generasi pertama yang tinggal di daerah Ahqaf di wilayah Hadhramaut, ketika semakin bertambah kejahatan dan kesewenang-wenangan mereka terhadap para hamba Allah. Mereka berkata:
مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً
“Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” (Fushshilat:15)

Hijrah ke Habasyah (Ethiopia)


oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Kaum muslimin masih terus mendapat tekanan dari orang-orang Quraisy. Ketika sebagian dari mereka hijrah ke Habasyah, orang-orang Quraisy masih saja mengejar untuk membinasakan mereka. Penderitaan kaum muslimin makin bertambah ketika mereka diboikot di lembah Abu Thalib.
Semakin lama, semakin keras permusuhan orang-orang Quraisy terhadap kaum muslimin. Akhirnya, kaum muslimin diizinkan Allah Ta’ala hijrah ke Habasyah. Orang-orang Quraisy kembali berusaha menahan dan menangkap mereka namun tidak berhasil.

Kisah “Hamzah dan ‘Umar Masuk Islam”


Oleh Ustadz Idral
Saat Hamzah dan ‘‘Umar bin Al-Khaththab masuk Islam, posisi kaum muslimin di Makkah bertambah kuat. Namun upaya kaum musyrikin untuk menghentikan dakwah Rasulullah tidak semakin kendor.  Melalui paman Nabi,  kaum musyrikin meminta Rasulullah menghentikan dakwahnya. Namun upaya ini pun gagal. Akibatnya, penindasan terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi. (Lead)
Abu Jahl semakin hebat memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin. Suatu kali dia bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Perang Badr Kubra


Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Perang Badr adalah peperangan besar pertama yang dihadapi kaum muslimin menghadapi orang-orang kafir Qurays. Rasulullah dan para shahabatnya mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin, termasuk strategi perang yang akan digunakan. Dalam peristiwa ini semakin terlihat kebenaran iman para shahabat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hidup Tanpa Tuduhan


 ditulis oleh Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai
            Pahit rasanya hidup ini saat dituduh melakukan ini dan itu. Dituduh telah mengucapkan kata yang bukan-bukan. Sesuatu yang tidak pernah diperbuat karena buruk dan cela,malah ditimpakan kepada kita. Prasangka-prasangka buruk seolah tiada pernah berakhir. Pernah dituduh? Pernah disangka ternyata keliru? Bersabarlah dan sikapi dengan positif,niscaya Anda tetap bahagia.

Perang Badr Kubra (lanjutan)


Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Pada edisi lalu dikisahkan bahwa pasukan Islam telah bergerak mendahului kaum Quraisy menuju tempat yang terdekat dengan sumber air di Badr. Peperangan pertama antara muslimin dan musyrikin pun siap berkecamuk.

Perang Badr Kubra 3 Kekalahan Pasukan Musyrikin


Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Sebelumnya dikisahkan, di awal pertempuran, kaum muslimin sempat terdesak oleh pasukan musyrikin. Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah untuk meminta pertolongan-Nya. Turunlah pasukan dari langit, yang dengan itu pasukan musyrikin porak-poranda. Termasuk iblis yang bergabung dengan pasukan musyrikin memilih kabur dari medan pertempuran karena takut binasa. Berikut kisah lengkapnya.

Perang Uhud Awal Pertempuran


Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib

Para shahabat adalah orang-orang yang memiliki keimanan paling tinggi dibanding manusia lainnya. Ini terbukti ketika Perang Uhud hendak berkecamuk, mereka serta merta menyatakan diri ingin ikut dalam perang tersebut. Tak terkecuali dengan anak-anak yang masih di bawah umur. Namun oleh Rasulullah mereka belum dibolehkan ikut berperang.

Perang Uhud 3 Kekalahan Akibat Kelalaian


Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Kemenangan yang sudah berada di depan mata dalam sekejap berubah menjadi kekalahan. Inilah keadaan kaum muslimin dalam peperangan Uhud. Kemenangan yang sudah hampir diraih berubah menjadi kekalahan disebabkan pasukan pemanah yang ditempatkan di atas bukit Uhud yang diperintah Rasulullah agar tidak bergerak ke mana-mana tidak mematuhi perintah tersebut. Akibat kelalaian ini, pasukan musyrikin memiliki kesempatan memukul balik pasukan muslimin.

Peristiwa Bi`r Ma’unah dan Awal Mula Qunut Nazilah


Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa kaum muslimin. 70 shahabat pilihan yang merupakan para qurra` (ahli membaca Al-Qur`an) dibantai dengan hanya menyisakan satu orang saja. Peristiwa ini mengguratkan kesedihan yang mendalam pada diri Rasulullah . Beliaupun mendoakan kejelekan kepada para pelakunya selama satu bulan penuh. Inilah awal mula adanya Qunut, namun tentu saja bukan seperti yang dipahami oleh masyarakat kebanyakan di mana dilakukan terus menerus setiap Shalat Shubuh.

Beberapa Kisah Yang Menyedihkan


Keadaan pribadi Nabi juga sangat menyedihkan. Apalagi kaum musyrikin betul-betul dendam kepada beliau. Beberapa prajurit musyrikin berusaha mendekati beliau, ada yang berhasil memecahkan topi baja beliau sehingga melukai kepala dan menembus pipi beliau serta mematahkan gigi seri beliau.
Al-Imam Al-Bukhari  menceritakan dalam Shahih-nya:
بَابُ {لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ} قَالَ حُمَيْدٌ وَثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ: شُجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالَ: كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ. فَنَزَلَتْ {لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ}
“Bab firman Allah l:
لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka..).1 Humaid dan Tsabit berkata, dari Anas bahwasanya Nabi luka berdarah kepala beliau pada perang Uhud, lalu berkata: “Bagaimana mungkin beruntung satu kaum yang melukai Nabi mereka. Maka turunlah ayat: لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu).”

Memiliki Kepekaan Dan Kepedulian


Ditulis oleh Ustadz Marwan
Termasuk perkara yang wajib untuk senantiasa dijaga oleh setiap individu adalah menjaga ketaqwaan kepada Alloh Ta’aala dan menjauhi perilaku untuk tidak menyakiti sesama kaum muslimin, karena ancaman adzab Allah dalam masalah tersebut sangat berat dan akibat dalam masalah tersebut sangat membahayakan, Firman Allah Ta’aala :
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Al Ahzaab : 58).

Sebuah Ruang Berdindingkan Ketenangan

 ditulis oleh Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai
            Dengan kecepatan sedang,sebuah mobil Avanza berwarna hitam menemani kami menyibak jalur yang cukup padat ke arah kota Surakarta.Sisa-sisa kegembiraan kaum muslimin setelah berbuka puasa selepas maghrib hari itu masih nampak hangat terasa. Malah,semakin dekat dengan lokasi rumah saya,seolah jalan semakin menyempit karena kesibukan kaum muslimin untuk berangkat taraweh. Namun,kecepatan mobil tetap sedang.

Perang Bani Nadhir


November 15, 2012

Ditulis Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib

Sejak jaman dahulu, bangsa Yahudi memang dikenal sebagai ahli makar. Pembunuhan terhadap para Nabi dan kekejian lainnya tidak lepas dari tangan-tangan mereka. Berbagai peperangan yang muncul di jaman Rasulullah juga lahir dari persekongkolan jahat mereka. Salah satunya adalah Peperangan Bani Nadhir.

Petunjuk Nabi Untuk Mendapatkan Keselamatan (2)


November 3, 2012

 Di Tulis Oleh Ustadz Kharisman
B.     Mengikuti Sunnah Nabi

Doa Keluar Rumah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ } بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ{ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“ Dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Jika seseorang keluar dari rumahnya dan mengucapkan –yang artinya-: Dengan Nama Allah aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allah”. Malaikat akan berkata : Engkau diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi, sehingga syaitan menyingkir darinya dan syaitan yang lain berkata : Bagaimana engkau bisa mengganggu seseorang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?”(H.R Abu Dawud dan at-Tirmidzi)


Petunjuk Nabi Untuk Mendapatkan Keselamatan (1)


November 2, 2012

Di Tulis Oleh Ustadz Kharisman

A.     Pendahuluan



Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Petunjuk beliau mencakup seluruh segi kehidupan bagi seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah perasaan aman dari segala macam marabahaya yang mengancam keselamatan hidupnya.

Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam telah memberikan bimbingan bagi kita tentang apa saja yang dilarang dan apa yang seharusnya dilakukan. Sebagian manusia ingin mendapatkan keselamatan itu dengan cara-cara yang terlarang, seperti memakai jimat, bertathoyyur, dan minta tolong kepada Jin. Kadangkala, seseorang mendapatkan apa yang diinginkan itu (keselamatan) di dunia meski ia melakukan sesuatu yang terlarang secara syariat. Mereka kemudian menyangka bahwa apa yang dilakukan itu telah diridhai oleh Allah, buktinya adalah apa yang mereka inginkan tercapai. Contohnya, orang yang memakai jimat untuk keselamatan. Atas taqdir Allah ia diselamatkan dari suatu marabahaya. Ia kemudian menyangka bahwa dengan sebab jimat itu ia mendapatkan keselamatan dan perbuatannya memakai jimat itu diridhai oleh Allah. Padahal itu adalah bentuk ujian dan istidraj dari Allah.

  © Blogger templates addiinradio by Ourblogtemplates.com 2008

Kembali ke Atas