Source: http://amronbadriza.blogspot.com/2012/05/cara-membuat-tab-view-di-blog.html#ixzz2EU7pdnWj
Diberdayakan oleh Blogger.

Bermain dan Belajar

December 15, 2011 |
Wanita dan Keluarga | Bagaikan mengukir di atas batu, demikian perumpamaan bagi orang yang belajar pada masa-masa emasnya. Maksudnya, bahwa belajar pada masa kanak-kanak akan melekat kuat dalam jiwa, bagaikan lukisan yang digoreskan di atas batu akan tergambar jelas tidak mudah hilang. Masa-masa emas ini pulalah yang dimanfaatkan oleh pendidik terbaik sepanjang sejarah manusia, Rasulullah Muhammad `. Tak heran, banyak sekali didapatkan para cendekiawan muda yang terlahir dari bimbingan beliau. Kita kenal Abdullah bin Abbas x, Abdullah bin Umar x, Anas bin Malik z, Abdullah bin Masud z, dan masih banyak lagi, mereka adalah ulama, yang mencapai derajat tinggi dalam umur yang masih relatif muda. Seandainya kita lihat sistem pendidikan Rasulullah `, kita akan dapatkan bahwa beliau mendidik umat dalam setiap kesempatan. Bukan hanya dalam majelis-majelis ta’lim, bahkan ketika sedang safar, saat berboncengan, dan pada setiap keadaan. Termasuk pula saat anak bermain. Seperti dalam hadits yang diriwatkan oleh Imam Al Bukhari, dari Anas bin Malik z,,,,,,, ia mengisahkan bahwa Rasulullah ` sering berkunjung ke rumahnya. Pernah suatu hari burung kecil, peliharaan Abu Umair (adik Anas bin Malik) yang ia bermain dengan burung tersebut mati, melihat kesedihan anak kecil tersebut Rasulullah menghiburnya. Beliau ` bersabda, “Wahai Abu Umair kenapa burungmu?” Dalam sepenggal hadits ini banyak sekali muatan pendidikan yang ingin Rasulullah sampaikan. Bahkan Imam Asy Syafi’i menyimpulkan kurang lebih 40 pendidikan dalam hadits ini. Minimalnya bagi si anak tersebut adalah tertanamnya kecintaan terhadap sosok pengajar karena perhatian besar yang diberikan. Maksud dari uraian ini adalah agar kita sebagai orang tua tidak membiarkan masa-masa emas anak lewat begitu saja. Sekedar untuk main-main tanpa ada unsur pendidikan. Apalagi main-main adalah dunianya anak-anak. Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan tanpa adanya tujuan yang serius. Satu-satunya tujuan adalah perasaan senang pada saat melakukannya. Karenanya, bermain sangat dekat dengan dunia anak-anak. Pada kegiatan seperti inilah kesempatan yang sangat bagus bagi orang tua untuk memberikan pendidikan bagi mereka. Secara garis besar usia bermain pada anak dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap: Tahap pertama adalah penjelajahan. Tahap ini mulai usia bayi sampai satu tahun. Pada usia ini kegiatan bermain bayi berupa memandang di sekitarnya. Lalu, ketika otot tangan mulai kuat bayi mulai senang menggenggam dan mengguncang-guncang benda kecil. Daerah penjelajahan menjadi lebih luas ketika mereka mulai merangkak atau belajar berjalan. Pada usia inilah anak banyak merekam kejadian di sekitarnya. Sehingga orang tua bisa memberikan pembelajaran dengan menciptakan suasana yang religius. Dengan memperdengarkan anak kalimat-kalimat thayyibah seperti bacaan murottal, ucapan do’a, tutur kata yang santun, dan yang lainnya. Juga memperlihatkan kepada mereka kegiatan-kegiatan ibadah seperti shalat, qiraatul Quran, dan muamalah yang bagus. Idealnya, kondisi seperti ini dipertahankan sampai kapanpun. Tahap kedua usia antara satu sampailima atau enam tahun. Semakin sempurna otot tubuh memungkinkan anak menguasai berbagai alat bermain. Umumnya anak usia satu sampai tiga tahun, anak masih bermain sendiri. Sekalipun mereka bermain bersama dengan yang seusia, tetapi masing-masing sibuk dengan alat bermainnya sendiri. Pada tahap ini dan selanjutnya, kebutuhan peran dan bimbingan orang tua terhadap anak dalam kegiatan bermain lebih besar. Mulai dari pengaturan waktu bermain, alat bermain, dan cara permainannya. Orang tua hendaknya membiasakan anak cara mengatur dan membagi waktunya. Jangan sampai waktu bermain bertabrakan dengan jam istirahat, waktu makan, atau saat beribadah maupun jadwal belajar yang sesungguhnya. Alat bermain pun, hendaknya orang tua memilihkan bagi anak yang bersifat edukatif. Seperti mewarnai gambar, balok susun, dan yang lainnya. Saat orang tua mendampingi dan membimbing mereka bermain inilah waktu yang tepat untuk menyisipkan pengajaran kepada mereka, seperti pelajaran akidah, akhlak, adab, kosakata bahasa arab atau yang lainnya. Tahap ketiga. Meningkatnya kemampuan berpikir dan bersosialisasi membuat mereka lebih menyukai permainan yang melibatkan teman. Pada tahap ini pengawasan orang tua relatif lebih susah. walapun orang tua tidak bisa sepenuhnya mengawasi, bukan berarti orang tua melepaskan begitu saja. Pada tahap inilah orang tua menekankan pengajaran akhlaqul karimah kepada anak, berupa: sifat amanah, menghargai orang lain, kejujuran, kasih sayang, berbagi dengan teman, menolong yang kesulitan, dan akhlak yang lainnya, yang sangat mungkin didapat saat anak bermain dengan temannya. Jadi, orang tua yang sayang anak bukan artinya memberikan kebebasan kepada anak untuk bermain dengan sebebas-bebasnya. Tapi orang tua yang sayang anak adalah yang berusaha keras mengusahakan keshalihannya, sampai dari hal main dan mainan. Orang tua yang bijak akan terus memerhatikan dan memberikan pendidikan anak sesuai dengan pertumbuhan anak. Allahu a’lam. [Farhan].

Halalan Thayyiban

December 16, 2011
 Seorang muslim adalah orang yang semangat mengusahkan kemanfaatan bagi dirinya, baik kemanfaatan dunia maupun akhirat. Ia selalu berusaha keras disertai penuh tawakal dan doa memohon kepada Allah Yang Maha Kaya lagi Dermawan. Karena ia yakin bahwa Allah menjamin akan memberi seorang yang demikian itu. Apalagi Allah berfirman dalam ayat-Nya: “Dan carilah (kebahagiaan) negeri akhirat, pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu. Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Q.S. Al Qashash:77]. Seorang ulama tabiin, Imam Qatadah menjelaskan bahwa maksud dari ‘janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi’ adalah rezeki yang halal. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al Qurthubi. Dalam ayat yang mulia di atas, Allah memerintahkan kita semua untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat, rezeki yang halal di dunia dan pahala besar di akhirat. Kebahagiaan dunia akhirat ini tentu hanya bisa terwujud dengan berbuat ihsan (berbuat baik) kepada Allah Sang Khaliq sekaligus kepada makhluk. Yaitu mewujudkan ketakwaan kepada-Nya lahir batin di mana pun berada. Takwa adalah mentaati perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya berdasarkan bimbingan ilmu syariat. Karena dalam ayat di atas dengan tegas Allah melarang kita untuk berbuat kerusakan di muka bumi, yaitu berbuat kerusakan dengan bermaksiat kepada-Nya. Dalam sebuah hadits Rasulullah ` bersabda, “Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah, perbaguslah dalam mencari (rezeki). Karena tidaklah jiwa akan mati sampai terpenuhi rezekinya, walaupun lambat. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, perbaguslah dalam mencari (rezeki). Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.” [H.R. Ibnu Majah dari shahabat Jabir bin Abdullah x, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib]. Dalam hadits ini Rasulullah ` menggabungkan antara maslahat dunia dan akhirat. Bahwa kebahagiaannya masing-masing hanya bisa didapatkan dengan takwa kepada-Nya. Rohani dan jasmani akan merasakannya: Ketenangan jiwa, ketentraman, rasa qonaah (merasa cukup), pikiran positif, dan santainya jasmani alias tidak ngoyo bisa didapatkan dengan memperbagus cara dalam mencari rezeki. Yaitu dengan mengambil yang halal saja dan menjauhi yang haram sebagaimana dalam hadits di atas. Inilah aplikasi takwa. Apalagi dalam riwayat Al Hakim dari shahabat Abdullah bin Masud z, Rasulullah ` menegaskan, “Apabila rezeki lambat bagi kalian maka jangan mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena keutamaan-Nya tidak akan didapat dengan kemaksiatan terhadap-Nya.” [dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib]. Ketika kita yakin bahwa kadar rezeki masing-masing telah ditentukan, maka seberapapun bagian kita yang Allah karuniakan hari ini akan tetap menenangkan jiwa. Jika banyak Alhamdulillah, kita syukuri dengan memanfaatkannya dalam ketaatan kepada Allah. Seandainya sedikit atau bahkan tidak dapat apa-apa, kita bersabar. Kita lihat orang lain yang hidupnya lebih sempit daripada kita, agar kita bisa menilai besarnya nikmat kelonggaran yang telah Allah karuniakan kepada kita. Dengan demikian, InsyaAllah kita akan lebih mampu menguasai diri untuk tetap berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal. Oleh sebab itu, senantiasa meningkatkan ketakwaan adalah keharusan. Apalagi kita hidup pada zaman sebagaimana yang Rasulullah ` sebutkan dalam hadits beliau, “Akan datang suatu zaman kepada manusia, yang seseorang tidak peduli apa yang ia ambil. Dari yang halal atau dari yang haram.” [H.R. Al Bukhari dari shahabat Abu Hurairah z]. Subhanallah…, inilah salah satu mukjizat beliau. Kita benar-benar melihat orang sudah tidak peduli dengan agamanya. Manusia saling menjatuhkan dan memangsa demi ambisinya. Mereka tidak peduli lagi yang halal dan yang haram. Sangat mungkin sekali terseret arus seandainya kita tidak kokoh dalam mempertahankan agama. Kita mohon kepada Allah keselamatan dunia dan akhirat. Perlu diingat, bahwa harta yang didapat dengan cara yang haram tidak ada barakahnya sama sekali. Lantas, apa yang akan diharap dari harta selain barakahnya? Apa artinya harta melimpah, mobil mewah, dan rumah megah, apabila hatinya miskin dan sempit? Apalagi harta haram tersebut kelak di akhirat akan menjadi bahan bakar api yang memanggangnya. Rasulullah ` bersabda, “Tidak akan masuk surga, jasad yang ditumbuhkan dengan makanan yang haram.” [H.R. Abu Ya’la, Al Bazar, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Abani dalam Shahih At Targhib]. Demikian, Amiin. Allahu a’lam. [farhan].

Pemboikotan di Lembah Abu Tholib

December 17, 2011 |
 Mereka berupaya dengan berbagai macam cara untuk memadamkannya. Sudah berbagai cara mereka tempuh, mulai dari sekedar mengolok-olok, mencaci maki, menuduh dusta, sampai dengan siksaan fisikpun telah mereka lakukan. Namun hal ini tidak mendapatkan hasil yang berarti. Tetap saja jumlah kaum muslimin bertambah banyak. Mulailah mereka bermusyawarah dan akhirnya mendapatkan keputusan untuk menugaskan dan memberikan hak kepada seluruh kepala kabilah untuk menyiksa masing-masing anggota kabilahnya yang memeluk agama Islam tersebut. Mulailah kaum muslimin mendapatkan siksa demi siksa, terlebih lagi bagi kaum lemah di antara mereka. Mereka mendapatkan siksaan yang orang tidak akan tega mendengar kisah penyiksaan mereka. Akan tetapi kepada Rasulullah, kaum musyrikin merasa enggan untuk berbuat yang tidak baik kepada beliau. Beliau adalah orang yang memiliki keutamaan, wibawa serta kedudukan yang mulia di sisi masyarakat quraisy, terlebih lagi beliau dilindungi oleh Abu Thalib paman beliau yang termasuk pemimpin quraisy kala itu. Mereka tidak akan berani mencabut perlindungan Abu thalib kepada Nabi Muhammad dan berbuat jahat kepada beliau secara sendirian. Oleh karenanya mereka mencari cara supaya Abu thalib mau mencabut perlindungannya kepada keponakannya itu. Bujukan dan rayuan yang lembut telah mereka upayakan, ancaman pun telah mereka lakukan akan tetapi tetap saja Abu Thalib bersikukuh dengan pendiriannya untuk senantiasa melindungi Rasulullah. Abu Thalib mengajak Bani Hasyim dan Bani Muththalib, baik yang muslim atau yang kafir untuk melindungi dan membela Rasulullah. Pada akhirnya kaum musyrikin membuat suatu kesepakatan dan perjanjian yang ditulis dalam lembaran dan berisi larangan untuk melakukan pernikahan dengan Bani Hasyim dan Bani Muththalib kecuali Abu Lahab dan Abu Jahal, larangan mengadakan hubungan perdagangan, dilarang pula duduk bermajelis dengan mereka, berbincang dan bercampur baur dengan mereka. Lembaran perjanjian itu akhirnya disepakati dan diletakkan di tengah ka’bah. Maka seketika itu pula Rasulullah beserta orang-orang yang melindungi beliau dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib tertahan di sebuah lembah. Mereka hidup dengan menggantungkan apa yang ada disisi mereka, tentu saja ini adalah perkara yang mustahil bagi bangsa Arab. Waktu terus berjalan pemboikotan tersebut belum juga berakhir. Kaum musyrikin tidak membiarkan setiap makanan yang datang dari kafilah dagang melainkan mereka borong atau mereka beli dengan harga tinggi. Mereka tidak membiarkan makanan tersisa untuk dibeli orang-orang yang diboikot. Demikianlah keadaan yang terjadi. Hal ini mengakibatkan orang–orang yang terboikot tidak mendapatkan suplai makanan sama sekali dari luar. Padahal, kehidupan bangsa Arab sangat membutuhkan bahan kebutuhan pokok dari orang-orang di luar mereka. Demi mempertahankan hidup Rasulullah ` dan orang-orang yang terboikot pun harus rela untuk memakan daun serta kulit pohon yang ada. Hal ini mengakibatkan kesengsaraan yang sangat, terlebih bagi golongan yang lemah dari kalangan wanita dan anak-anak. Terdengarlah dari balik lembah tersebut suara rintihan para wanita dan anak-anak yang menahan lapar. Sebagian penduduk Mekah ada yang merasa iba kepada mereka. Secara sembunyi-sembunyi mereka mengantarkan makanan kepada satu atau dua orang kerabat. Namun, makanan tersebut hanya didapatkan oleh orang tertentu, tidak kepada semua orang yang terboikot. Apalah artinya sesuap atau dua suap nasi bagi segolongan mereka sedangkan golongan yang lebih banyak masih menderita kelaparan dan kesedihan. Setelah kurun waktu yang lama, yakni sekitar tiga tahun, mulailah ada dari kalangan kaum Quraisy orang-orang yang berkehendak untuk membatalkan perjanjian pemboikotan tersebut. Sebab sebenarnya ada dikalangan Quraisy yang membenci perjanjian yang berisi kedhaliman tersebut. Di antaranya adalah Zuhair bin Aswad beserta empat orang yang lain. Suatu ketika mereka bersepakat untuk membatalkan perjanjian tersebut. Mulailah mereka menyusun strategi. Maka pada pagi hari setelah penyusunan rencana tersebut keluarlah mereka menuju ka’bah. Setelah melakukan thawaf di ka’bah, mulailah Zuhair bin Aswad berdiri dan berteriak menyeru kepada manusia,”wahai penduduk Mekah apakah kita akan makan dengan enak, dan memakai pakaian yang bagus sedangkan bani Hasyim binasa!! kita tidak dibolehkan jual beli dengan mereka!! Demi Allah aku tidak akan duduk sampai lembaran perjanjian yang zalim itu disobek.” Maka tatkala Abu Jahal mendengar ucapan ini, ia menyanggahnya, “Engkau dusta, demi Allah kita tidak akan menyobeknya!!” satu persatu empat orang yang melakukan kesepakatan ini pun akhirnya angkat bicara sehingga terjadilah perdebatan yang sengit di kalangan mereka. Tatkala perdebatan terjadi, ternyata Abu Thalib telah berada di situ sebelumnya. Ia sengaja datang ke Ka’bah pagi itu karena Rasulullah telah memberitahukan kepadanya bahwa lembaran perjanjian tersebut telah rusak dimakan oleh rayap, kecuali kalimat yang menyebutkan nama Allah. Maka pada akhirnya Abu Thalib membuat kesepakatan dengan orang-orang Quraisy yang isinya adalah apabila benar apa yang dikatakan oleh Muhammad tersebut maka orang-orang Quraisy harus membatalkan perjanjian. Namun apabila salah, maka Abu Thalib akan melepaskan perlindungannya kepada Rasulullah `. Berdirilah Math’am bin ‘Ady menuju lembaran perjanjian tersebut. Dan ternyata ia melihat lembaran tersebut telah rusak kecuali kalimat bismikallahumma (dengan menyebut nama-Mu ya Allah). Maka gugurlah perjanjian tersebut dan keluarlah Rasulullah bersama orang-orang yag diboikot untuk menghirup napas kebebasan. Sungguh, sebenarnya orang-orang musyrikin telah melihat tanda-tanda kenabian Muhammad `, akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman dan buta mata hatinya sebagaimana Firman Allah, “Karena bukanlah mata-mata mereka buta namun yang buta adalah apa yang ada dalam hatinya.” [Q.S. Al Haj: 46]. Tanda-tanda tersebut tidaklah menyadarkan mereka, justru menjadikan mereka bertambah kafir dan membangkang kepada Allah. Wallahu a’lam. [hammam]. Referensi : Ar Rakhiqul Al Makhtum

  © Blogger templates addiinradio by Ourblogtemplates.com 2008

Kembali ke Atas