Source: http://amronbadriza.blogspot.com/2012/05/cara-membuat-tab-view-di-blog.html#ixzz2EU7pdnWj
Diberdayakan oleh Blogger.

Wanita, Peran dan Tugas

Wanita, satu bagian dari pemeran kehidupan ini seakan tersingkir dari peranan.
Mereka digambarkan sebagai ‘teman belakang’ yang tak lebih dari sekedar ‘anak bawang’. Sejatinya, mereka memiliki peranan yang penting dan vital meskipun hanya berkutat di belakang dinding rumah.
Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan. Masing-masing memiliki perannya dalam kehidupan, sesuai dengan kapasitasnya dan kemampuannya.

Bersegera Meraih Ampunan Allah

January 6, 2012 |
 : وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” [Q.S. Al Imran:133]. Hidup ini hanya sesaat, ajal setiap waktu akan menjemput dan akhir perjalanan yang semakin dekat.

Belanja di Jalan Dakwah

    Mengenal Islam Lebih Dekat

    January 8, 2012 |  Sebarkan :
    Kita patut bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kita. Walaupun kita tidak akan mampu untuk membalasi nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak. Betapa banyak nikmat Allah yang telah kita lalaikan tanpa disadari. Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk banyak bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian mengkufuri (nikmat)-Ku.” [Q.S. Al-Baqarah:152]. Termasuk nikmat terbesar yang telah Allah anugerahkan kepada kita adalah nikmat mengenal Islam dan menjadi pemeluknya. Banyak orang yang tidak mendapatkan karunia ini, tidak mengetahui Islam, terlebih untuk tunduk memeluk agama ini. Namun bagaimana seorang akan mensyukuri sesuatu apabila ia tidak menyadari bahwa perkara tersebut patut disyukuri. Oleh karena itu, secara selaras dalam hati, lisan serta anggota badan. Islam memiliki tiga esensi utama, ketiganya harus terpenuhi untuk tegak serta benarnya Islam seseorang. Tidak akan tegak salah satu darinya tanpa yang lain. Ketiga esensi itu adalah : Yang Pertama: Mengesakan Allah Dengan Berserah Diri Hanya Kepada Allah Seorang muslim adalah seseorang yang beriman bahwa Allah adalah satu-satunya yang mampu menciptakan mengatur serta memelihara alam. Tidak ada tandingan bagi Allah dalam kemampuan tersebut. Dia beriman pula bahwa hanya Allah yang berhak untuk diibadahi, dimintai, dan ditakuti. Yang mana, ini semua adalah konsekuensi atas keimanannya terhadap keesaan Allah dalam penciptaan, pengaturan dan pemeliharaan alam. Dia juga wajib beriman bahwa bagi-Nya lah seluruh nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna. Seorang muslim adalah orang yang tidak akan memercayai bahwa ada yang bisa mengatur alam selain Allah, tidak pula berdoa dan meminta kepada selain Allah serta tidak memberikan sifat ketuhanan kepada selain Allah. Yang Kedua: Tunduk Dan Patuh Dengan Menaati-Nya Seorang muslim akan tunduk kepada Allah dengan menaati seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Ketundukan ini adalah konsekuensi dari pengakuannya akan keesaan Allah. Tidak akan didapati pada diri seorang yang berislam dengan benar keinginan untuk menyelisihi perintah Allah, terlebih untuk terang-terangan menentang-Nya. Sikap penentangan kepada Allah seperti ini hanya akan muncul dari orang yang tidak mengesakan-Nya. Bahkan, sikap penentangan terhadap Allah adalah salah satu sikap orang kafir dan munafik. Sebaliknya, sikap tunduk atas perintah dan larangan-Nya adalah ciri dari seorang muslim sejati. Yang Ketiga: Berlepas Diri Dari Kesyirikan Dan Para Pelakunya Kesyirikan adalah lawan dari tauhid, tidak akan bersatu dalam diri seseorang antara syirik dan tauhid. Seandainya seseorang bertauhid maka ia akan melenyapkan kesyirikan dan demikian sebaliknya. Ketika seseorang berkeyakinan bahwa Allah satu-satunya yang mengatur alam, maka ia tidak akan mensifati selain-Nya sebagai pengatur alam yang menandingi-Nya dalam pengaturan. Ketika ia memberikan ibadah hanya kepada Allah maka tentulah ia tidak akan memberikannya kepada selain-Nya dan demikian seterusnya. Sehingga seorang muslim adalah orang yang antipati dari segala bentuk kesyirikan baik yang besar maupun kesyirikan kecil semisal riya’. Ia adalah orang yang paling jauh dari menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Selain membenci dan antipati terhadap kesyirikan, seorang muslim juga orang yang menghindari dan berlepas diri dari para pelaku kesyirikan tersebut serta dengan sungguh-sungguh memusuhinya. Allah ta’ala telah berfirman mengisahkan kepada kita sikap Nabi Ibrahim q beserta orang-orang yang bersama beliau terhadap kesyirikan dan para pelakunya yang artinya, ”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kalian dari daripada apa yang kalian sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara Kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” [Q.S. Al-Mumtahanah:4]. Inilah esensi Islam, barangsiapa yang meyakininya, maka ia adalah seorang muslim. Oleh sebab itulah seluruh Nabi dan Rasul demikian pula para pengikut mereka adalah kaum yang berislam, karena mereka memiliki ketiga esensi Islam. Allah pun memerintahkan Ibrahim untuk berislam(berserah diri) kepada Allah: ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ “Ketika Rabbnya berfirman kepadanya, ‘Ber-Islam-lah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.”’ [Q.S. Al-Baqarah:131]. Allah juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang ber-Islam (berserah diri) kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka.” [QS Al-Ma`idah:44]. Dalam sebuah hadits disebutkan pula bahwa seluruh Nabi memiliki keyakinan yang sama dalam akidah, tauhid, serta ketundukan mereka terhadap Allah. Namun, mereka berbeda dalam syariat sesuai yang Allah turunkan atas mereka. Rassulullah ` bersabda yang artinya, “Para nabi adalah auladul ‘alat ibu mereka berbeda-beda akan tetapi agama mereka satu.” [H.R. Ahmad, Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah z, dishahihkan Syaikh Al Albani v dalam Shahihul Jami’]. Auladul ‘alat adalah ibunya berbeda-beda dan bapaknya satu maksudnya sebagaimana yang disinggung Rasulullah ` sendiri bahwa keimanan mereka satu adapun hukum-hukum syariat mereka berbeda. Demikian penjelasan Ibnul Atsir v dalam An Nihayah fi Gharibil Atsar. Inilah makna Islam dalam artian umum, adapun Islam dalam artian khusus adalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad `. Di mana seseorang tidak dikatakan menjadi pemeluk Islam sampai ia mau beriman dengan seluruh apa yang dibawa oleh Rasulullah ` serta tunduk dengan seluruh syariatnya. Ini adalah Islam yang menyempurnakan syariat yang datang sebelumnya. Satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah. Rasullullah ` bersabda yang artinya, “Demi Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, pemeluk Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia mati dan tidak mau beriman terhadap apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk dari penduduk neraka.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah `]. Allah berfirman di dalam kitab-Nya: “Barangsiapa menginginkan selain Islam sebagai agama, maka tidaklah hal itu diterima darinya dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” [Q.S. Ali Imran:85]. Allahu a’lam. [hammam]. Sebarkan :

    Semut yang Ajaib

    January 9, 2012 |
     Sebarkan : Pernahkankita mendengar tentang kata An-Naml? Ya, An-Naml adalah salah satu namasurat dalam Al Quran yang berarti semut. Ternyata, semut memiliki segudang keistimewaan yang membuat mata kita terbelalak karena takjub dengannya. Coba kita perhatikan baik-baik tentang hewan lemah yang satu ini, dengan kelemahannya dibanding hewan yang lain, ia memiliki kecerdasan dan kecakapan yang tinggi dalam mencari makanan untuk kehidupan sehari-hari. Satu komunitas semut jika ingin mengumpulkan makanan, mereka keluar dari sarangnya secara serempak. Ketika ada yang mendapatkan makanan, yang pertama kali dilakukan adalah membuat jalan yang menghubungkan antara makanan tersebut dengan sarangnya. Lalu dengan segera mereka berusaha untuk memindahkan makanan tersebut ke sarang. Dalam usaha memindah makanan tersebut semut membagi tugas menjadi dua bagian. Satu berusaha untuk memindahkan makanan ke sarang, yang lainnya menyambut untuk kemudian dibawa masuk dan disimpan ke gudang penyimpanan makanan. Uniknya masing-masing semut tidak saling bercampur tugasnya, mereka melakukannya secara teratur. Apabila makanan yang ditemukan sangat besar, maka para semut bergotong royong untuk membawanya. Hal ini tak ubahnya seperti manusia yang bergotong royong untuk mengangkat sesuatu yang besar lagi berat. Jadi, semut memiliki insting tolong menolong dan bergotong royong untuk mendapatkan kebaikan bagi mereka. Adasuatu kisah menarik dari Ibnul Qayyim v tentang semut ini. Dahulu, ada seseorang yang berkisah bahwa suatu saat ia melihat seekor semut sedang mencari makanan. Orang ini pun meletakkan makanan untuk semut tersebut, makanan yang sangat besar. Ketika mendapatkannya, semut ini pun berusaha mengangkatnya namun tidak mampu. Sejenak ia pergi untuk memanggil teman-temannya. Lalu, datanglah semut tersebut dengan sekelompok pasukan semut. Orang ini pun mengangkat makanan tersebut. Mulailah sekelompok semut itu berkeliling untuk mencari makanan tadi, namun mereka tidak mendapatkannya. Pulanglah mereka ke sarangnya tanpa membawa apa-apa. Selang beberapa saat semut itu pun datang kembali ke tempat tersebut untuk mencari makanan. Lalu orang ini meletakkan makanan itu ke tempatnya kembali. Kembali semut itu pun menemukannya dan berusaha mengangkatnya namun tak mampu. Ia pun pulang untuk memanggil teman-temannya. Datanglah kembali rombongan tadi dengan bersemangat untuk mendapatkan makanan yang sangat besar. Namun, lagi-lagi orang ini pun mengangkat makanan tersebut sehingga mereka pulang tanpa membawa apapun. Kejadian ini berulang ketiga kalinya, maka setelah hal ini berulang tiga kali, dan mereka tidak mendapatkan hasil sedikit pun, akhirnya sekelompok semut ini membuat lingkaran dan bersama-sama mengelilingi si semut. Kemudian mereka bersama-sama mengangkat semut tadi dan memotong- motong tubuhnya menjadi beberapa bagian. Kecerdikan semut yang lain adalah apabila mereka ingin menyimpan biji-bijian sebagai makanan, mereka membelah biji tersebut supaya tidak tumbuh menjadi tanaman. Kalau biji tersebut termasuk biji yang berkeping dua maka mereka potong menjadi empat bagian. Setelah dalam gudang penyimpanan makanan pun biji-bijian tersebut dirawat supaya tetap awet. Tatkala biji tersebut basah atau lembab, mereka mengeluarkan biji-bijian tersebut untuk dijemur dibawah terik matahari agar tidak membusuk, lalu memasukkannya kembali setelah kering. Oleh sebab itulah kita terkadang melihat ada biji-bijian yang terpotong-potong berserakan di sekitar lubang semut lalu dalam waktu sekejap biji-biji itu menghilang kembali. Demikianlah sekilas mengenai keajaiban semut, tentulah masih banyak keajaiban yang lain yang mengagumkan untuk dibahas. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. [Hammam]. Referensi :Miftah Daris Sa’adah, karya Imam Ibnul Qayyim v. Sebarkan :

    Hadiah

    January 10, 2012 | 
     Sebarkan : Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak jarang terjadi perselisihan dan pertikaian antara sesama mereka. Terkadang perselisihan tersebut akan bertambah tajam jikalau tidak segera ditangani dan dicarikan solusi. Terlebih lagi adanya syaithan ‘sang musuh abadi’ yang tidak akan rela bila kaum muslimin hidup rukun, damai dan saling mencintai. Setiap waktu ia akan berusaha untuk menciptakan konflik dan menyulutnya diantara kaum muslimin. Islam, telah mengajarkan segala kebaikan bagi para pemeluknya. Termasuk dalam hal ini adalah mengajarkan bagaimana cara menghilangkan sikap permusuhan dan sekaligus menciptakan rasa saling cinta. Salah satu caranya adalah dengan saling memberikan hadiah antara sesama mereka. Berikut ini ada sedikit pembahasan mengenai hadiah, semoga dapat bermanfaat. Hukum Memberi Hadiah Hukum memberi hadiah asalnya adalah boleh ketika tidak ada penghalang dalam syariat. Namun hukum asal tersebut dapat berubah menjadi sunnah ketika hadiah ini diberikan dalam rangka untuk mewujudkan perdamaian serta menciptakan rasa saling sayang dan cinta antara sesama muslim. Hadiah juga dianjurkan apabila diberikan dengan tujuan untuk membalas hadiah. Berubah pula hukum boleh tersebut menjadi haram apabila hadiah itu dari sesuatu yang haram atau dengan tujuan yang haram. Perintah untuk saling memberikan hadiah telah disebu tkan dalam sunnah Rasulullah `, di antaranya adalah sabda beliau ` dari sahabat Abu Hurairah z: تهادوا تحابوا “Salinglah memberi hadiah antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.“ [H.R. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v]. Hukum Menerima Hadiah Menerima hadiah menurut pendapat yang kuat adalah wajib, dengan catatan hadiah tersebut adalah hadiah yang mubah dan tidak ada penghalang dalam pandangan syariat yang bisa dijadikan alasan untuk menolak hadiah. Kewajiban untuk menerima hadiah tersebut telah diperintahkan, bahkan dilakukan sendiri oleh Rasulullah `. Dari Abdullah bin Mas’ud z, bahwa Rasulullah ` bersabda yang artinya, “Penuhilah undangan, janganlah kalian menolak hadiah dan janganlah pula kalian memukul kaum muslimin.” [HR Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v]. Juga disebutkan dari Abu Hurairah z bahwa Rasulullah ` bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang Allah berikan kepadanya sesuatu dari harta ini (hadiah) dengan tanpa meminta-minta maka hendaknya ia menerimanya, karena itu adalah rizki yang Allah berikan kepadanya.” [H.R. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v dalam Shahih At Targhib]. Kapan Boleh Menolak Hadiah? Kewajiban untuk menerima hadiah bukan berarti mutlak harus dilakukan, namun dibolehkan untuk tidak menerimanya apabila ia memiliki alasan yang sesuai dengan syariat. Rasulullah ` pun pernah pula menolak hadiah dengan alasan tertentu. Di antara alasan bolehnya menolak hadiah: Karena adanya larangan untuk menerimanya dengan sebab syariat. Dari As-Sha’ab bin Jatsamah z bahwa beliau suatu saat memberi hadiah kepada Nabi ` berupa daging kuda zebra, tetapi Rasulullah ` menolak hadiah tersebut. Maka berubahlah rona muka shahabat tersebut, melihat hal ini Rasulullah ` bersabda yang artinya, “Saya tidak menerima hadiah tersebut kecuali sebabnya saya sedang dalam keadaan Ihram” [H.R. Bukhari dan Muslim]. Dalam riwayat ini beliau tidak menerima hadiah tersebut dikarenakan beliau dalam keadaan haji, sedangkan orang yang haji tidak diperbolehkan untuk makan dari hewan buruan, dan kuda zebra dalam hadits ini adalah hewan buruan. Karena udzur (alasan tertentu). Dari Abdullah bin Abbas x bahwa suatu saat bibinya yaitu Ummu Hafid memberi hadiah kepada Nabi ` berupa: susu kering, minyak samin serta adhab (hewan sejenis biawak yang hidup di padang pasir, dan makanan pokoknya adalah tumbuhan), maka beliau memakan susu kering, minyak samin dan menolak adhab.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim]. Dalam hadits ini Rasulullah ` menolak untuk memakan adhab. Adhab adalah makanan yang biasa dimakan oleh kaum Anshar namun tidak biasa dimakan oleh penduduk Mekah, sehingga beliau merasa risih untuk memakannya walaupun tidak diharamkan. Menolaknya karena khawatir mudharat yang akan menimpanya. Dari Abu Hurairah z bahwa Rasulullah ` bersabda yang artinya, “Demi Allah, setelah tahun ini aku tidak akan menerima hadiah kecuali dari orang-orang yang berhijrah, orang Quraisy, orang Anshar, orang Daus, atau orang Tsaqafy.” [H.R. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v]. Penolakan beliau atas hadiah selain dari orang-orang yang tersebut ini disebabkan karena sebelumnya ada seorang Arab Badui yang memberikan hadiah kepada Nabi `. Merupakan kebiasaan mereka adalah memberikan hadiah dalam rangka untuk mendapatkan balasan yang lebih baik. Maka Rasulullah ` memberikan hadiah kepada orang ini dengan sesuatu yang dimampui Nabi `. Namun orang ini marah dan tidak terima, sampai akhirnya Nabi ` memberi dengan kadar yang diinginkan orang tersebut. Maka, di sini dapat diambil pelajaran bahwa kita boleh menolak hadiah atau pemberian jika hal tersebut akan memberikan kemudharatan kepada kita atau akan menjadikan rendah orang yang menerima hadiah tersebut. Demikian sekilas mengenai hadiah dan hukum-hukumnya, semoga kita dapat memetik manfaat darinya. Wallahu a’lam. [hammam]. Sebarkan :

      © Blogger templates addiinradio by Ourblogtemplates.com 2008

    Kembali ke Atas