Source: http://amronbadriza.blogspot.com/2012/05/cara-membuat-tab-view-di-blog.html#ixzz2EU7pdnWj
Diberdayakan oleh Blogger.

BANGGA JADI MUSLIM

June 2, 2011 |
 Tak bisa dipungkiri, banyak dari kita sekarang yang kurang percaya diri dengan identitas keislamannya. Mulai dari tren berpakaian hingga ke pola pikir. Kita merasa lebih nyaman kemana-mana mengenakan kaos dan celana jeans. Sebaliknya, kita merasa minder, merasa salah kostum bila mengenakan baju koko atau jilbab. Kita lebih suka mengambil inspirasi dari Chicken Soup daripada membaca kisah para sahabat. Merasa lebih “cerdas dan intelek” dengan menonton Oprah Show daripada datang ke pengajian. Kita merasa takjub ketika tahu Mark Zuckerberg ternyata membuat Facebook di usia 19 tahun, tapi kita merasa biasa saja mengetahui Ali bin Abi Thalib z mulai memperjuangkan Islam dengan ujung pedangnya ketika berusia 8 tahun. Kita bahkan terbiasa memulai hari kita dengan membaca koran, bukan dengan membaca Al-Qur’an. Bahkan, ada segelintir dari kita yang justru merasa lebih nyaman bergaul dengan temannya yang bukan muslim dibanding dengan saudaranya sesama muslim, dengan alasan bahwa temannya itu lebih toleran. Hohoho… maksud “toleran” di sini, bahwa temannya yang bukan muslim tersebut akan cuek saja, apakah kita shalat atau tidak. Segelintir itu jugalah yang merasa risih dengan teman muslimnya yang “tidak toleran”, karena teman muslimnya tersebut sering menasehatinya untuk menjauhi pacaran. Lambat laun, hati kita cenderung lebih menyukai mereka yang bukan muslim tersebut. Hal-hal inilah yang akan melemahkan hati, sehingga tiap akhir tahun, dengan mudahnya kita mengirim SMS “‘Met Natal & Tahun Baru”. Tidakkah kita merasa bahwa dengan SMS ini, sama saja menyatakan keridhaan kita atas agama mereka? Apa kita mau menyatakan bahwa agama mereka benar? Saudaraku……………. Tahukah engkau bahwa kaum musliminlah yang dulu menguasai peradaban dari eropa hingga asia selatan Kaum musliminlah yang menjadi mercusuar ilmu pengetahuan, dan menjadi rujukan dunia, disaat manusia mencampakkan ilmu pengetahuan Kaum musliminlah yang pertama kali memuliakan wanita, ketika manusia menganggapnya sebagai makhluk rendahan Namun, dengan berbagai prestasi kaum muslimin tersebut, mengapa justru kita sekarang terpuruk? Kenapa kita sekarang malah minder dalam ber-islam? Ada berbagai macam alasan mengapa kita banyak yang tidak percaya diri dengan identitas keislamannya. Namun semuanya bermuara pada satu sebab. Yaitu kurangnya ilmu agama kita. Minimnya ilmu agama membuat kita tidak yakin akan kebaikan dari agama kita. Sehingga, segala aturan dalam syariat itu dianggap sebagai kekangan, hal yang membuat dada kita terasa sesak. Harus make jilbab lah! Pacaran nggak boleh lah! Harus shalat di masjid lah! Padahal syariat yang agung ini, mengatur hal-hal tersebut demi kebaikan kita sebagai manusia. Media juga memiliki andil besar dalam membentuk pola pikir kita. Hegemoni barat dalam media sudah melewati pintu-pintu rumah kita setiap hari melalui televisi. Acara fiksi, gaya hidup, musik hingga talkshow, semua sebagian besar dari barat. Melalui televisi lah pola pikir kita dibius: barat adalah sumber kemajuan, apa-apa yang datang dari barat adalah kebenaran. Di tengah serbuan produk kebudayaan barat tersebut, kita harus bisa memilih, mau sepenuhnya mengekor buta (taqlid) terhadap kebudayaan barat, atau tetap berpegang teguh pada kesempurnaan ajaran Islam dengan memilah apa-apa yang datang dari mereka. “Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan” [Q.S. Al-Balad:10] Namun, bukan berarti kita menolak secara mutlak apa-apa yang datang dari mereka. Yang dilarang untuk diikuti, adalah apa-apa yang merupakan kekhasan mereka, baik itu penampilan, perayaan maupun pola pikir mereka. Dalam hal-hal yang sifatnya sarana duniawi (teknologi), kita boleh mengambil dari mereka. Dari berbagai alasan di atas, maka : 1. Mulailah belajar agama secara serius. Ilmu agama tidak hanya yang kita dapatkan melalui 2 jam pelajaran agama dalam seminggu di kelas, ataupun hanya melalui khutbah Jumat di masjid. Mulailah ikut pengajian-pengajian. Pilihlah pengajian yang materinya mengajarkan tauhid terlebih dahulu. Karena tauhid-lah yang merupakan inti agama kita. Dengan tauhid yang benar, maka kita bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan tauhid yang benar, maka kita belajar mengikhlaskan apa-apa yang kita lakukan, sehingga selalu dinilai ibadah disisi Allah k. 2. Memilih pergaulan yang baik. Teman yang baik akan mendorong kita untuk melakukan hal yang baik. Dia juga akan mengingatkan kita ketika kita berbuat salah. 3. Memilah media. Apa yang kita lihat dan dengar akan mempengaruhi pola pikir kita. Jauhilah menonton cerita fiksi dan membaca komik. Banyak-banyaklah membaca kisah-kisah keteladanan orang-orang shalih. Ambillah pelajaran dari cara hidup mereka yang bersahaja. Lalu, berhati-hatilah juga terhadap acara-acara diskusi/talkshow yang ada di televisi. Karena kebanyakan acara diskusi tersebut tidak berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sehingga hasil dari acara diskusi seringkali bertentangan dengan agama kita. Acara seperti ini walau tidak terkesan mendikte, tapi menyusupi pola pikir kita secara halus dengan metode dialog, diskusi, obrolan, dan semacamnya. Saudaraku…… Marilah kita mulai memulai hidup yang lebih baik. Memilih hidup dengan cara Islam, hidup dengan apa-apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukankah kita sekarang sudah cukup dewasa? Sudah bisa mengambil keputusan? Ingatlah bahwa masa muda adalah suatu titik penentuan yang akan menentukan masa depan kita. Tiap orang memiliki pertimbangan. Tiap pilihan memiliki konsekuensi. Namun, orang berakal pasti akan menentukan pilihan hidupnya dengan pilihan yang merupakan wujud syukur atas nikmat terbesar yang didapatkannya, yaitu nikmat hidayah Islam. “Sungguh, kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur, ada pula yang kufur” [Q.S. Al-Insan:3]. Wallahu alam bish showwab. (ditulis pada pertengahan Februari, ditengah keprihatinan atas banyaknya pemuda Islam yang ikut merayakan Valentine’s Day) (Ristyandani)

Agar Sembuh ONANI (Ayo, Kamu Bisa)

June 3, 2011 |
Onani dan masturbasi. Dua kata yang tabu disebutkan oleh orang yang masih memiliki fitrah di dalam dirinya. Sayang, bagi sebagian remaja saat ini, seakan-akan onani dan masturbasi adalah hal yang biasa. Bagi kamu yang sudah ‘ketagihan’, dengan kemauan, usaha, dan kerja keras yang tinggi, kamu pasti bisa keluar dari masalah ini. Kamu mau kan dipanggil sebagai seorang mukmin. Nah, di antara ciri seorang mukmin adalah yang Allah sebutkan dalam Surat Al-Mu`minun ayat 5-7: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,(*) Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.(*). Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.”[Q.S. Al Mukminun 5-7]. Sebagian ulama menjadikan ayat di atas sebagai landasan diharamkannya onani dan masturbasi. Karena, orang yang melakukan onani dan masturbasi termasuk mencari selain yang Allah telah halalkan. Yang berarti telah melampaui batas sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Imam Asy-Syafi’i, Imam Malik, dan ulama lainnya berdalil dengan ayat ini tentang diharamkannya onani. Hal ini juga disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya. (Adhwa`ul Bayan) Nah, buat kamu yang sudah terlanjur ‘ketagihan’ melakukannya, kami sebutkan beberapa hal yang bisa kamu lakukan buat meredakan ‘dorongan jiwa’ ini. Terapi yang ditempuh untuk menghilangkan kebiasaan haram ini di antaranya adalah: 1. Bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Merasa senantiasa diawasi oleh Allah di mana pun berada, di kamar tidur, kamar mandi, dan di semua tempat. Seluruh aktivitas kamu nggak ada yang tersembunyi bagi Allah. Semua yang kamu lakukan akan dicatat, lalu kamu akan dapati seluruh amalannya tercatat dalam catatan amal. Allah berfirman yang artinya, “Dan diletakkanlah catatan amal, lalu engkau akan melihat orang-orang yang berbuat dosa takut terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka Kami, kenapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan. dan Rabbmu tidak menzalimi seorang pun”.[Q.S. Al-Kahfi:49]. 2. Menikahlah. Onani dan masturbasi disebabkan dorongan syahwat yang kuat. Jadi, bagi yang mampu menikah, menikahlah. Lagipula, menikah itu banyak banget untungnya lho. 3. Kalau belum mampu menikah, lemahkan syahwat kamu dengan puasa. Untuk poin dua dan tiga ini, Rasulullah bersabda dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ibnu Mas’ud z yang artinya, ”Wahai para pemuda, siapa yang mampu menikah, maka menikahlah. Adapun yang belum mampu berpuasalah, sesungguhnya puasa adalah tameng baginya.” 4. Sibukkan diri kamu dengan kegiatan yang bermanfaat, amal shalih, bekerja, belajar, olah raga, dan yang lainnya. Jangan banyak melamun atau kosong dari amal shalih. 5. Cari teman baik yang bisa mengingatkan dan menasehati. 6. Hindari pemicu syahwat, seperti ikhtilat (campur baur lawan jenis), tidak menjaga pandangan dan yang lainnya. 7. Berdoa kepada Allah, memohon kepada-Nya untuk mengilangkan kebiasaan buruk ini. Plus, berusaha sekuat tenaga agar tidak terjerumus ke dalam maksiat ini. 8. Jangan pernah memandang remeh satu dosa pun. Al-Qadhi ‘Iyadh v mengatakan, “Ketika engkau meremehkan dosa, ketika itu pula akan besar di sisi Allah. Ketika engkau menganggap besarnya dosa, ketika itu pula akan menjadi kecil di sisi Allah.” Tumbuhkan rasa takut kepada Allah. Abdullah bin Masud z mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosanya seolah-olah seperti melihat gunung yang khawatir akan runtuh menimpanya. Adapun seorang pendosa melihat dosanya seolah lalat yang hinggap pada hidungnya, ia kipaskan begitu saja dan terbang”. [Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]. 9. Catat dan ingat-ingat ucapan Nabi ` ini, “Siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya.” [H.R. Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani v dengan disandarkan kepada Imam Ahmad]. Pengen dong yang lebih daripada kesenangan ‘sekejap’ yang langsung lenyap. 10. Jangan menyerah, selalu semangat dan minta pertolongan kepada Allah. Rasulullah ` bersabda, ”Bersemangatlah dalam setiap yang bermanfaat bagimu dan mintalah selalu pertolongan Allah, jangan lemah.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah z]. 11. Coba kamu renungkan, Allah telah menciptakan kamu, memberikan segala fasilitas buat kamu, melimpahkan nikmat-Nya lahir dan batin. Allah ta’ala berfirman, “Tidakkah kalian perhatikan bahwasanya Allah telah menundukkan untuk kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” [Q.S. Luqman:20]. Kenapa justru kamu balas dengan maksiat? 12. Poin terakhir, kami ingatkan, semakin besar dan berat usaha kamu, semakin besar pula pahalanya di sisi Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dari Aisyah x, Rasulullah ` bersabda yang artinya, ”Sesungguhnya balasanmu sesuai dengan kadar keletihanmu.” Ayo berjuang, kamu bisa, insya Allah. Allahu a’lam. [Farhan]

Dusta dalam Canda

May 15, 2011 |
 Dusta merupakan perbuatan yang tak lagi susah dijumpai. Dengan banyak alasan, dusta pun dihalalkan demi melancarkan urusan. Sejatinya, dusta sebenarnya sudah merupakan hal yang dilarang dalam semua kebudayaan. Bahkan, masyarakat Jahiliah pun menganggap perbuatan ini sebagai perbuatan yang rendah. Sebaliknya, orang yang jujur dan amanah mereka anggap sebagai orang yang memiliki kemuliaan. Maka dari itu, Islam mengukuhkan haramnya dusta dan membuat koridor serta peraturan yang bakumengenainya. Hal ini merupakan realisasi agama Islam sebagai agama yang mengajarkan akhlak mulia, sebagai ajaran yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Apakah Dusta Dusta adalah memberitakan tidak sesuai dengan kebenaran, baik dengan ucapan lisan secara tegas maupun dengan isyarat seperti menggelengkan kepala atau mengangguk. Rasulullah ` telah menyebutkan dusta sebagai salah satu tanda kemunafikan. Beliau bersabda yang artinya, “Tanda orang yang munafik ada tiga: jika berkata dia dusta, jika berjanji dia ingkari, dan jika diamanahi dia khianati.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Dusta Yang Diperbolehkan Dan Yang Tidak Diperbolehkan Secara asalnya, semua dusta terlarang dalam Islam. Namun, sebagai agama pertengahan yang tidak berlebihan dan mengurang-ngurangi, Islam memiliki pengecualian dalam berdusta. Karena, terkadang berdusta dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu. Rasulullah ` memberikan keringanan untuk berdusta dalam tiga keadaan: untuk memperbaiki hubungan antara suami istri, memperbaiki hubungan antara dua orang, dan kebohongan dalam peperangan. Beliau ` bersabda, “Tidak halal berdusta kecuali pada tiga keadaan: seorang laki-laki berbicara kepada istrinya, dusta dalam peperangan, dan dusta untuk memperbaiki hubungan antara manusia.” [H.R. At-Tirmidzi dari Asma` binti Yazid x, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v].Para ulama sepakat bolehnya berdusta pada tiga keadaan ini. Lalu bagaimana dengan dusta untuk bergurau? Apakah termasuk yang dikecualikan? Jawabannya terkandung dalam sabda Rasulullah ` yang artinya, “Celaka orang yang berbicara kemudian berdusta untuk membuat tertawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.” [H.R. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari sahabat Mu’awiyah bin Haidah z, derajat hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani v]. Meninggalkan dusta meskipun hanya gurauan adalah kesempurnaan iman. Rasulullah ` pernah bersabda yang maknanya, “Seorang hamba tidak beriman secara sempurna hingga dia meninggalkan dusta meskipun hanya bergurau.” [H.R. Ahmad dan Ath-Thabarani, dari sahabat Abu Hurairah z, Asy-Syaikh Al-Albani v mengatakan, “Derajat hadits ini shahih lighairih” di dalam kitab Shahih At-Targhib]. Bagaimana dengan berdusta kepada seorang anak? Meskipun hanya berdusta kepada anak kecil agar datang kepadanya, hal itu tidak diperbolehkan di dalam agama Islam. Rasul ` telah bersabda: مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ تَعَالَ هاَكَ ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِىَ كَذْبَةٌ “Barangsiapa mengatakan kepada seorang anak, ‘Ke sini nak, aku beri kamu.’ Lalu dia tidak memberinya, maka ini adalah sebuah kedustaan.” [H.R. Ahmad, dari Abu Hurairah z, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v]. Bercanda Boleh, Tapi … Lantas, apakah bercanda dilarang dalam Islam? Jawabannya adalah: tidak. Bercanda hukum asalnya boleh, terkadang menjadi sunah jika ada maslahatnya seperti mengakrabi seseorang dan menghangatkan suasana ukhuwah. Rasulullah ` pun pernah bercanda bersama sahabatnya. Namun, tentu candaan beliau berada di dalam koridor adab Islam. Berikut ini adalah beberapa adab dalam bercanda: 1. Tidak berdusta. 2. Tidak menakut-nakuti, seperti menyembunyikan barang teman agar dikira hilang, mengunci temannya di dalam kamar, dan lainnya. Rasulullah ` pernah bersabda yang artinya, “Janganlah seseorang dari kalian mengambil tongkat saudaranya baik bergurau atau serius. Barangsiapa mengambilnya, hendaknya dia kembalikan.” [H.R. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v]. 3. Tidak menjelek-jelekkan teman. 4. Tidak dibumbui ghibah (membicarakan keburukan orang lain yang tidak ada di tempat tersebut). 5. Jangan terlalu sering. Ulama mengatakan bahwasanya terlalu sering tertawa menyebabkan kebodohan dan kedunguan. Rasulullah ` pun telah menjelaskan, “Janganlah banyak bercanda karena bercanda mematikan kalbu.” [H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v]. Inilah aturan Islam yang mulia, tidak meninggalkan satu pun perikehidupan kecuali telah diatur dengan indah. Demikianlah, Islam telah disempurnakan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil sebelum mewafatkan Rasul-Nya `. Allahu a’lam bish shawab. (Abdurrahman)

Teman Tapi Shalih

June 1, 2011 |
 Sobat Tashfiyah, Senang dong kalo kita punya sahabat yang bisa jadi tempat curhat. Apalagi, kalo dia bisa memberi solusi dan bimbingan. Lha bagaimana kalo sobat kamu justru jadi biang onar buat kamu. Kamu lagi cekcok sama temen, eh, dia nggak mendamaikan, malah membantu memusuhinya. Bisa berabe kan? Makanya, Islam, agama sempurna yang kita anut ini memberi pengarahan dalam mencari teman. Soalnya, banyak orang terjerumus ke dalam kubangan kemaksiatan -bahkan kekufuran- gara-gara teman yang buruk. Baca deh firman Allah ini: “Dan pada hari itu orang zhalim menggigit jari mereka dan mengatakan, ‘Wahai, seandainya aku berjalan bersama Rasul.*. Celakalah aku, andai aku tidak menjadikan Fulan sebagai sahabat karib.*. Dia telah menyesatkanku dari peringatan (yakni agama Islam) setelah datang kepadaku. Dan sesungguhnya syaithan benar-benar meninggalkan manusia (ketika manusia sudah terjerumus ke dalam jebakan mereka).” [Q.S. Al-Furqan:27-29]. Mau Nggak Dikasih Misik? Kamu tahu misik kan? Misik itu wewangian yang konon sangat disukai orang Arab. Wanginya sangat harum. Nah, mengenai misik ini, Rasulullah ` pernah membuat ibarat, “Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang jelek seperti pembawa (penjual) misik dan peniup tungku (pandai besi). (Duduk dengan) pembawa minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, bisa jadi engkau membeli darinya, atau bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu (karena debu bara yg beterbangan), dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]. Nah, itu tadi permisalan teman yang shalih dan teman yang buruk. Teman yang baik bisa menularkan keshalihannya, minimalnya kamu dapat perlakuan yang baik dari dia. Sedangkan, teman yang buruk bisa menularkan keburukannya, minimalnya kamu dijahati sama dia. Nah, maka dari itu, cari teman yang shalih (apalagi penjual misik yang shalih, bisa dapat parfum gratis nih). Kamu, Teman Kamu, dan Agamamu Sebagai muslim, tentu agama Islam ini sangat berarti banget buat kamu. Tentunya kamu tahu kalau agama ini adalah kunci masuk surga. Makanya, agama kamu ini harus didahulukan daripada apapun. Untuk menyempurnakan agama kamu, kamu mesti pilih teman yang baik. Alasannya, seperti sudah disebutkan, teman punya pengaruh gede banget buat diri kamu. Rasulullah ` pun bersabda, “Seseorang itu berada di atas agama teman karibnya, maka lihatlah oleh kalian siapa temannya.” [H.R. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v]. Kalau teman kamu jarang shalat, ya biasanya kamu nggak begitu jauh dari teman kamu. Kalo teman kamu suka minum khamr (baca: whiskey, sampanye, bir, Mansion, Topi M***ng™, dll), biasanya kamu nggak menolak kalau ditawari. Jadi, cari teman yang ngajakin shalat zhuhur, shalat dhuha, ngingetin kalau pas lupa shalat (shalat kok lupa), dan lainnya. Makanya, seorang penyair Arab, ‘Adi bin Zaid pernah bilang (bilangnya sih pakai bahasa Arab, ini langsung diterjemahkan): “Jangan tanya tentang seseorang, tapi tanyalah tentang temannya Setiap teman mengikuti temannya Jika kamu di suatu kaum, carilah sobat yang paling baik Dan jangan berkawan yang jelek, nanti kamu jelek, ikut orang jelek” Eiitt, ini bukannya ngajakin kamu biar jadi eksklusif lho (nge-geng sama itu-itu aja, kalau sama teman lainnya nggak mau). Cuma, kalau teman dekat ya cari yang shalih. Soalnya, teman dekat ini yang sangat berpengaruh buat kamu. Jadikan Ngaji Teman Dekat Sobat, ada satu cara manjur bin mujarab buat menyelamatkan agama kamu dari rongrongan teman yang buruk. Coba deh kalau di sekitar kamu ada pengajian yang berlandaskan Al-Quran dan sunnah, kamu luangkan waktu untuk ikut acara itu. Biasanya gratis kok. Nah, di situ kamu bisa bergaul dengan teman-teman yang gaul abis. Maksudnya, gaul tentang ilmu agama yang bisa diajak konsultasi atau berbagi ilmu agama. Plus, mengingatkan kalau kamu melampaui batas. Allahu a’lam bish shawab. (Abdurrahman)

Islam Telah Sempurna

June 1, 2011 |
 Tubuh seorang manusia dikatakan sempurna jika telah tepat sesuai dengan kebutuhannya. Dengan sepasang tangan, sepasang kaki, kepala beserta seluruh anggota badan yang lengkap, manusia akan merasakan kenyamanan tubuh dan nikmatnya tubuh tersebut. Coba kita bayangkan, apabila kita terlahir dengan satu tangan, satu kaki, atau dengan mata yang buta, tentu hal tersebut akan menyedihkan dan mengganggu kehidupan kita. Kita merasakan kehidupan yang kurang normal. Demikian pula tatkala seseorang ditakdirkan memiliki tangan tambahan, kaki tambahan, atau anggota tubuh tambahan yang lain, tentu dikatakan kepadanya bahwa ia tidak normal. Jadi, kurang dari kebutuhan dikatakan kurang sempurna, sebagaimana kelebihan juga dikatakan tidak sempurna. Allah telah memberikan nikmat yang begitu banyak kepada hamba-Nya, terlebih kepada kita kaum muslimin pengikut Rasulullah. Termasuk nikmat yang Allah karuniakan khusus bagi kaum muslimin tetapi tidak diberikan kepada umat selainnya, adalah dengan sempurnanya agama Islam ini, sebagaimana telah difirmankan oleh Allah, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan bagi kalian nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Q.S. Al MaidaH:3]. Dalam ayat ini Allah mengkabarkan bahwa agama Islam telah Allah sempurnakan bagi kita. Dan nikmat yang tidak diberikan kepada selain umat islam. Kesempurnaan islam meliputi segala sesuatu baik dari segi akidah, akhlak, muamalah, ibadah dan lain sebagainya. Sehingga semua perkara yang baik bagi manusia di dunia dan akhirat telah dijelaskan. Demikian pula setiap perkara yang jelek bagi manusia di dunia dan akhirat pasti telah disebutkan larangannya. Bukan hanya landasan dan pokok dalam agama saja yang telah Allah sempurnakan. Tetapi kesempurnaan ini mencakup seluruh aspek kehidupan. Bahkan dalam perkara buang air besar yang sebagian orang kurang mempehatikannya. simaklah apa yang disampaikan oleh seorang shahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghifari z yang mengatakan, “Rasulullah ` telah meninggalkan kita, dan tidaklah ada satu burung pun yang mengepakkan sayapnya, kecuali beliau telah menyebutkan ilmu tentangnya. kemudian beliau berkata, Rasulullah telah bersabda, ‘tidaklah ada yang tersisa dari sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali (semua) telah dijelaskan kepada kalian.” [H.R. Thabarani dengan sanad yang shahih]. Sudah sepatutnyalah kita bersyukur kepada Allah dengan pemberian nikmat ini, suatu pemberian yang membuat iri orang kafir, sebagaimana hal tersebut telah disampaikan oleh Thariq bin Syihab z, “seorang yahudi berkata kepada Umar bin Khatab z,, sesungguhnya kalian (kaum muslimin) membaca suatu ayat yang apabila ayat tersebut diturunkan kepada kami, pasti kami akan menjadikan hari tersebut sebagai hari raya. Maka Umar bertanya, “ayat apakah itu?”, mereka menjawab, ”“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan bagi kalian nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim]. Tentu saja syukur ini kita wujudkan dengan cara mengamalkan syariat yang sempurna ini. Dengan perbuatan, perkataan dan hati. Bukan sekedar ucapan syukur yang hanya manis dibibir saja. Merupakan perkara yang tidak kita pungkiri, bahwa kaum muslimin banyak melakukan perkara yang tidak disyariatkan dan diajarkan oleh Rasulullah ` ,seakan-akan agama Allah masih membutuhkan banyak tambahan. Lalu kesempurnaan apalagi yang masih perlu ditambahkan setelah Allah tetapkan kesempurnaan agama ini? Ibarat satu tubuh yang sempurna tentu tidak akan bertambah sempurna ketika ditambahkan anggota tubuh yang lain. Justru, tubuh itu akan menjadi cacat dan hilang kesempurnaannya. Demikian pula agama yang telah sempurna ini, tentu tidak perlu tambahan syariat baru yang justru akan mencacatnya. Oleh sebab itulah Imam Malik v berkata setelah menyebutkan ayat di atas, “Segala sesuatu yang pada hari itu bukan agama, pada hari ini pun bukan merupakan agama.”. Sehingga sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah dengan cara mengamalkan kewajiban kita, menjauhi apa yang haram bagi kita, dan bukan dengan melakukan ibadah yang tidak dituntunkan. Allahu a’lam. [Hammam].

Hidup Hedonis Berujung Riba

June 2, 2011 |
 Masyarakat terkejut tatkala terjadi pembunuhan terhadap salah satu nasabah bank swasta. Kasus ini bermula ketika nasabah tersebut datang ke bank untuk mengurus utang kartu kreditnya sekitar 60 juta rupiah. Ia marah ketika mengetahui tagihannya di bank membengkak menjadi 100 juta rupiah. Terjadilah negosiasi alot dengan pihak penagihan utang, yang berakhir pada kematian sang nasabah dengan tubuh bekas penganiayaan. (detiknews.com, 04/05/2011) Selang beberapa minggu setelah kasus ini mencuat, terjadi lagi peristiwa pembunuhan yang berlatar belakang penagihan utang kredit mobil. Bedanya, yang tewas justru sang penagih utang. Penagih utang tersebut tewas dianiaya oleh nasabah. (kompas.com, 19/04/2011) *** Gencarnya media dalam menampilkan kehidupan yang serba mewah telah menimbulkan gaya hidup konsumtif dalam masyarakat kita. Tidak hanya terjadi di kota-kota besar, gaya hidup konsumtif pun mulai merambah ke pelosok-pelosok desa. Seiring dengan menjamurnya lembaga-lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan cara yang sangat mudah, masyarakat yang konsumtif jadi merasa gampang dalam membeli sesuatu. Tinggal mengisi formulir pengajuan kredit, menandatanganinya, barang pun terbeli. Masalah bagaimana melunasinya, urusan nanti. Yang penting menikmati dulu barangnya, menikmati rasa gengsi yang timbul karena membeli barang mahal. Apa manfaat dari barang yang dibeli seringkali justru menjadi pertimbangan kedua. Masalah mulai timbul ketika tagihan kredit datang, yang ternyata jumlahnya membengkak akibat bunga. Pembaca yang dirahmati Allah… Praktek kredit sekarang ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek riba pada masa jahiliyah. Hanya bedanya, pada riba jahiliyah bunga akan dikenakan ketika si peminjam tidak bisa melunasi hutang pada waktu yang telah ditentukan. Sehingga bunga dianggap sebagai biaya penambahan waktu pembayaran. Sedangkan pada praktek kredit sekarang, bunga ditetapkan sejak pertama kali dana dipinjam. Sehingga banyak ulama yang mengatakan bahwa praktek kredit yang terjadi saat ini lebih zalim dibandingkan dengan riba jahiliyah. Mungkin ada yang berpikir, “Ah….yang zalim kan si pemberi hutang (yang mengambil riba), kita-kita yang jadi penghutang (sebagai pihak yang dirugikan) kan enggak dapat dosa”. Pandangan ini sepenuhnya salah, karena semua pihak yang terlibat dalam transaksi riba mendapatkan dosanya. Jabir mengatakan, Rasulullah ` melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberikannya, penulisnya dan kedua saksinya, dan beliau berkata, mereka semua adalah sama. (HR. Muslim) Masalah yang timbul akibat riba bukan hanya merugikan si penghutang saja. Namun riba juga menimbulkan konflik (dicontohkan pada awal artikel), dan menghilangkan ukhuwah (rasa persaudaraan) di kalangan manusia. Sistem riba mendorong manusia untuk melakukan kezaliman atas yang lain, hanya berdiam diri tanpa usaha apapun, tapi mengeruk keuntungan dari piutang yang berkembang. Ambruknya perekonomian Amerika Serikat akibat kredit macet perumahan rakyat, krisis yang menimpa Yunani, hingga kasus Bank Century yang menimpa negeri kita, menunjukkan bahwa merajalelanya riba bahkan berdampak buruk pada seluruh negeri. Rasulullah ` bersabda, “Apabila telah tampak perzinaan dan riba di suatu negeri, maka mereka berarti telah menghalalkan adzab Allah untuk diri mereka.” (HR. Ath-Thabarani dihasankan oleh Syaikh Al-Albani ). Sedemikian mengerikannya dampak riba dalam kehidupan manusia sehingga riba dikategorikan sebagai dosa besar. Rasulullah ` bersabda, “Riba itu tujuh puluh tiga pintu, dan pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR. Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi dari shahabat Abdullah bin Mas’ud z dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v dalam Shahih Al Jami’). Pembaca yang dirahmati Allah… Gaya hidup konsumtif yang menyeret pada riba, sesungguhnya bisa dihindari jika kita mampu menahan diri untuk tidak membelanjakan harta di luar kebutuhan. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh membelanjakan hal-hal yang diinginkan, namun hendaknya kita selalu mengukur dari sisi manfaatnya. Hendaknya kita selalu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya sudah butuh membelinya? Atau hanya sekedar gengsi? Apakah orang-orang di sekeliling saya juga sudah terpenuhi kebutuhannya? Allah l berfirman, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya syaithan” (QS. Al Isro’ : 27) Kehidupan yang sederhana dan selalu merasa berkecukupan insyaAllah akan selalu membuat tenang jiwa kita. Tidak akan ada habisnya jika kita terus melihat orang yang lebih kaya. Sering-seringlah melihat ke bawah, mengasihi fakir miskin dan anak yatim, melihat orang yang hidupnya lebih susah. Karena dengannya kita bisa belajar mensyukuri apa-apa yang kita miliki. Rasulullah ` mengajarkan kita untuk membaca doa berikut pada akhir shalat: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan agar bisa beribadah dengan baik kepadaMu.” (HR. An Nasa’i dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani) Semoga Allah l menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur, yang tidak mudah tergoda dengan kemewahan dunia. Wallahu a’lam bish shawab. (Ristyandani)

Rezeki Yang Diberkahi

May 10, 2011 |
 Bekerja adalah sunah (jalan hidup yang ditempuh oleh) para Nabi, mereka mengajarkan kepada umat bahwa tawakal adalah bekerja dan berusaha, berdoa serta bersandar kepada Allah. Inilah salah satu wujud dari takwa kepada Allah dan pengamalan ruh tauhid. Tawakal berarti menempuh sebab-sebab yang Allah izinkan, tidak berpangku tangan menunggu rezeki yang telah Allah tetapkan, sambil terus memohon kepada-Nya rezeki yang barakah. Yaitu, rezeki yang mendatangkan banyak kebaikan, berbuah kemanfaatan di dunia dan akhirat bagi diri sendiri dan orang lain. Rasulullah ` bersabda dalam sebuah hadits,” tidaklah seorang pun memakan makanan yang lebih baik dari hasil kerja tangannya. Sesungguhnya Nabi Allah Dawud dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” [H.R Al Bukhari dari sahabat Miqdam bin Ma’dikarib z]. Dalam hadits ini disebutkan Nabi Dawud secara khusus karena beliau adalah seorang khalifah di muka bumi, yang sebenarnya tidak perlu berusaha sendiri. Namun, hal ini tidak menghalangi beliau mencari yang paling utama. Demikian yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/306). Kemuliaan dan status sosial bukanlah halangan untuk bekerja, bahkan dengan makan dari keringat sendiri, mencari rezeki yang barakah justru sebagai keutamaan yang akan meninggikan kedudukannya di dunia dan akhirat. Di antara tanda rezeki yang barakah adalah berlandaskan niat yang benar dan takwa kepada Allah dalam pencariannya. Berniat untuk melaksanakan kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Rasulullah ` bersabda,” sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap penggembala tentang gembalaannya, ia jaga atau ia sia-siakan. Sehingga seseorang akan ditanya tentang pertanggungjawabannya terhadap keluarganya.” [H.R. Ibnu Hibban dari sahabat Al Hasan z, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At-Targhib]. Bahkan, siapa yang menyia-nyiakan dan menelantarkan keluarganya akan menanggung dosa, sebagaimana yang Rasulullah ` sampaikan, dari sahabat Abdullah Bin Amr z,” cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang menyia-yiakan orang yang berada dalam tanggungannya.” [H.R. Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam shahih At Targhib]. Sebaliknya, nafkah yang diberikan kepada keluarga akan dinilai sebagai sedekah. Bahkan seteguk air minum yang diberikan akan bernilai pahala. Rasulullah ` bersabda,” sesunggunya seseorang memberi air minum kepada istrinya, ia akan diberi pahala.” [H.R. Ahmad dari sahabat Al Irbat bin sariyyah z, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib].Seseorang yang bekerja dalam rangka mengamalkan bimbingan Rasulullah ` di atas, dengan niatan-niatan yang baik, memperhatikan batasan-batasan Allah dalam mencarinya, hati-hati dalam mencari peluang usaha, tidak mudah tergiur dan silau dengan kemegahan dunia, selalu menjaga diri dan menjauhi perkara yang diragukan kehalalannya dalam agama, kemudian selalu berdoa dan berusaha, maka Allah memberkahinya, sebagaimana Rasulullah ` jelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash z, beliau bersabda,” dunia ini manis dann hijau. Siapa yang menggambilnya dengan cara yang benar maka akan diberkahi. Berapa banyak orang yang tenggelam dalam dunia, tenggelam dalam nafsunya, ia tidak mendapatkan bagian pada hari kiamat kecuali neraka.” [H.R. At Thabarani, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Sahih At Targhib]. Allah juga akan membukakan pintu rezeki baginya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [Q.S. At Thalaq:2,3]. Dengan takwa pula Allah akan membukakan pintu barakah, “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [Q.S. Al A’raf:96]. Di antara tanda rezeki yang barakah adalah Allah mudahkan dalam pengaturan dan penyalurannya pada tempatnya, baik pembelanjaan yang hukumnya wajib maupun yang sunah. Dia bisa mengalokasikan uang dengan tepat, tidak terlalu ketat atau cenderung pelit dalam mengeluarkan uang, tidak pula berlebih-lebihan sehingga boros dan sia-sia. “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [Q.S. Al Furqan:67]. Dalam ayat yang mulia ini Allah memuji orang yang bijaksana dalam mengatur keuangannya. Bahkan Allah mencela sifat boros. Cukuplah sebagai celaan, Allah sebutkan orang yang demikian sebagai saudara syaithan. Syaithan yang tidaklah mengajak kecuali kepada akhlak yang jelek, apabila seseorang lolos dari bujuk rayunya untuk kikir, maka syaithan akan menyeretnya kepada sikap boros dan berlebih-lebihan. Allah berfirman, “Janganlah kalian menghambur-hamburkan (hartamu) secara berlebih-lebihan. Sesungguhnya orang yang menghambur-hamburkan itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” [Q.S. Al Isra`:26,27]. Di antara ciri rezeki yang barakah adalah dipergunakan untuk berbuat baik terhadap sesama. Senang memberi hadiah kepada tetangga, gemar bersedekah, membantu orang yang kesulitan, lunak dalam muamalah jual beli, memberi tenggang kepada orang yang terlilit hutang dan yang lainnya. Sebagaimana Allah menganjurkan dalam salah satu ayat-Nya Allah berfirman, “Dan janganlah kalian melupakan kelebihan harta untuk berbuat baik terhadap sesama kalian. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kalian kerjakan.” [Q.S. Al Baqarah:237]. Setelah Allah menghasung untuk berbuat kebaikan antara sesama, Allah menutup ayat ini dengan penyebutan sifat kesempurnaan-Nya yaitu Maha Melihat, artinya Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan ini, Allah akan mencatat dan akan membalasinya. Allahua’lam. [farhan].

Islam, Agama Sehat

May 20, 2011 |
 Banyak citra dihembuskan untuk menjelekkan Islam. Islam digambarkan sebagai agama yang kumuh, kolot, terbelakang, dan jauh dari kesehatan. Pemeluknya dianggap tidak mementingkan kesehatan dan keindahan. Realitanya, banyak hadits dan atsar-atsar ulama menganjurkan untuk memerhatikan kesehatan. Rasulullah ` pun pernah menyabdakan: تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ “Berobatlah karena Allah U tidak menurunkan penyakit kecuali pasti menurunkan obatnya, kecuali satu penyakit: pikun.” [H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani]. Imam Asy-Syafi’i v mengatakan, “Aku tidak mengetahui ilmu yang lebih cerdas setelah ilmu mengenai halal dan haram daripada ilmu kedokteran.” Hal ini karena ilmu dibagi menjadi dua: ilmu mengenai agama dan ilmu mengenai badan. Ilmu yang pertama membahas kesehatan rohani sedang ilmu yang kedua membahas kesehatan jasmani. Demikianlah, agama Islam sangat perhatian terhadap perkara kesehatan. Rasulullah ` juga telah memberitakan beberapa jenis pengobatan yang sejatinya merupakan mukjizat bagi beliau. Di mana, dengan penelitian modern tersingkap secara klinis manfaat dan kegunaannya. Madu Siapa yang tak kenal madu. Minuman kental yang manis ini sudah dipercaya sejak lama sebagai obat manjur dan lezat. Di dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya, “Keluar dari perut lebah minuman yang bermacam-macam warnanya di dalamnya ada obat bagi manusia.” [Q.S. An-Nahl:69]. Madu banyak mengandung gula. Karena gula yang dikandung madu adalah gula sederhana, energi madu mudah diserap tubuh. Walau begitu, gula yang dikandung madu memiliki kalori 40% lebih rendah daripada kalori gula biasa (sukrosa). Artinya, meski madu memberikan energi yang besar, madu tidak menambah berat badan. Inilah alasannya madu sangat baik untuk orang yang membutuhkan energi spontan seperti para olahragawan hingga orang yang berniat diet kalori. Selain gula, madu juga mengandung mineral-mineral penting seperti Magnesium, Kalium, Kalsium, Belerang, Besi, dan Sulfat. Madu juga mengandung vitamin-vitamin B1, B2, B3, B5, B6, dan C. Kandungan ini sangat tergantung pada nektar dan jenis bunga. Madu memiliki sifat melawan bakteri. Mengoleskan madu pada luka bisa mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada kasus luka bakar, madu juga bisa digunakan untuk mempercepat penyembuhan karena lebih cepat mengeringkan luka. Habbatus Sauda (Nigella sativa) Di Indonesia, Habbatus Sauda` sering juga disebut dengan jintan hitam. Biji bunga yang berwarna hitam ini memiliki khasiat yang sangat banyak. Rasulullah ` pernah bersabda, “Sesungguhnya habbatus sauda` adalah obat dari segala penyakit kecuali kematian.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Habbatus sauda` mengandung banyak gizi yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Sterol dan beta-sitosterol yang merupakan zat anti tumor membuktikan sahnya habbatus sauda` untuk digunakan sebagai obat anti tumor. Juga dilaporkan bahwa minyak habbatus sauda` efektif untuk merawat orang yang kecanduan. Peneliti di Pusat Kanker Kimmel, Universitas Thomas Jefferson di Philadelpia menemukan bahwa thymoquinone dalam ekstrak minyak jintan hitam mampu memblokir pertumbuhan sel kanker pankreas dan membunuh sel tersebut dengan memprogram semacam ‘bunuh diri’ bagi sel kanker tersebut yang sering disebut proses apoptosis. Namun, meminum jintan hitam tidak boleh overdosis. Jintan hitam memiliki kandungan melanthin dan nigilline. Melanthin beracun dalam dosis besar dan nigelline memiliki pengaruh membuat lumpuh, maka jintan hitam harus dikonsumsi dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Inilah sekilas ulasan dua buah obat mujarab yang disebutkan oleh Rasulullah `. Hal ini juga menjelaskan kepada kita bahwa Islam bukan agama yang tidak mencintai kesehatan. Islam adalah agama sehat di bawah wahyu ilahi yang menjamin manjur dan mujarabnya obat dan metode yang dipakai. Allahu a’lam bish shawab. (abdurrahman)

Di Balik Malam dan Siang

June 5, 2011 |
 Di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah siang dan malam. Keduanya adalah sebagian dari keajaiban ayat-ayat-Nya dan keindahan ciptaan-Nya. Oleh sebab itulah Allah menyebutkan dalam Al Quran berulang-ulang. Agar manusia bisa mengmbil pelajaran darinya. Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang.” [Q.S. Fushshilat:37]. Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Dialah yang menjadikan untuk kalian malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” [Q.S. Al Furqan:47]. Allah berfirman pula, “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Q.S. Al Anbiya’:33]. Ayat-ayat memacam ini banyak dalam Al Quran. Lihatlah ayat-ayat ini, renungkanlah kandungan pelajaran yang sekaligus menunjukkan rububiyah Allah (menunjukkan bahwa Allah lah semata pencipta, pengatur, penguasa, pemberi rezeki, dan makna-makna rububiyah yang lainnya) serta menunjukkan keagungan hikmah-Nya. Bagaimana Allah menjadikan malam dalam keadaan tenang, menyelimuti alam, sehingga berbagai aktivitas makhluk berkurang, hewan-hewan bersembunyi di rumahnya, burung-burung kembali ke sarangnya. Jiwa pun menjadi tenang, beristirahat dari payah dan letihnya berkerja, sambil merencanakan untuk esok hari. Kemudian Allah menggantikannya dengan siang hari, terang cahayanya menghilangkan gelapnya malam. Mulailah hewan-hewan keluar dari sarangnya untuk mencari penghidupan dan kemashlahatannya. Bukankah ini menunjukkan kemampuan Allah untuk membangkitkan manusia pada hari kiamat kelak? Namun, dengan seringnya jiwa ini menyaksikan hal tersebut sehingga menjadi kebiasaan, akhirnya menyebabkan kurang peka terhadap pelajaran ini. Pelajaran bahwa Allah Maha Mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematiannya. Allah Maha Mampu atas segalanya, Maha Sempurna sifat-sifat-Nya, tidak ada kekurangan sedikit pun dalam hikmah-Nya. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki, dan menyesatkan siapa yang Allah kehendaki. Sehingga sebagian orang bisa mengambil pelajaran darinya dan sebagian tidak. Allahu a’lam. [farhan]. Disarikan dari Miftah Daris Sa’adah karya Imam Ibnul Qayyim v.

Kemuliaan Ilmu

June 20, 2011 |
 Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, ”Cukuplah sebagai kemuliaan ilmu, orang yang bodoh pun mengaku-aku memilikinya. Ia juga senang disebut sebagai orang yang berilmu. Cukup pula sebagai celaan terhadap kebodohan, orang yang bodoh sekalipun menghindar dan berlepas diri darinya, ia juga akan marah apabila dikatakan sebagai orang yang bodoh.” [Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’]. Demikianlah adanya, ilmu memiliki kedudukan yang tinggi bahkan mutlak dibutuhkan dalam kehidupan. Dari sinilah, banyak orang yang rela mengorbankan harta, waktu, dan tenaga untuk mendapatkannya. Menuntut ilmu syar’i adalah ibadah yang paling mulia. Bagaimana tidak, ilmu adalah syarat keabsahan niat dan seluruh amalan baik lahir dan bathin. Yang menegaskan hal ini pula, Allah banyak menyebutkan keutamaan ilmu dalam Al Quran, demikian juga Rasulullah dalam hadits-hadits beliau. Tidaklah heran Sufyan bin Sa’id Ats Tsauri v mengatakan, ”Tidak ada amalan yang lebih afdhal dari pada menuntut ilmu apabila benar niatannya.”. [Riwayat Abu Umar ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi]. Imam Ahmad v juga pernah mengatakan,” mempelajari ilmu dan mengajarkannya adalah amalan yang lebih afdhal daripada jihad dan ibadah-ibadah yang bersifat sunah lainnya.” [Hasyiyah Tsalatsatul Ushaul]. Wejangan yang semakna banyak sekali disampaikan oleh para ulama, seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i. Bukti keutamaan ilmu adalah Allah menggandengkan kesaksian-Nya, para malaikat, dan orang-orang yang memiliki ilmu. Allah berfirman: “Allah mempersaksikan bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi melainkan Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Q.S. Ali Imran:18]. Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan keutaman ilmu dan kemuliaan ulama. Karena seandainya ada orang yang lebih mulia dari pada ulama, tentu Allah akan menggandengkan penyebutannya dengan nama-Nya dan para malaikat sebagaimana ulama [Al Jami’ li Ahkamil Quran]. Mungkin sebagian kita ada yang bertanya, bagaimana dengan para Nabi, Rasul, para shiddiqin (orang-orang yang jujur keimanannya), dan orang-orang shalih, kenapa mereka tidak disebutkan dalam ayat ini? jawabannya, mereka semua termasuk para ulama. Para Nabi dan Rasul adalah manusia yang paling berilmu terhadap Allah dan agama-Nya secara mutlak. Para shiddiqin, mereka tidak akan mampu mewujudkan kejujuran iman yang menancap kokoh dalam dada mereka kecuali setelah mengilmuinya. Demikian pula orang shalih. keshalihan itu ada setelah berilmu. Kemuliaan ilmu yang lain adalah Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, dalam salah satu ayat-Nya yang mulia: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [Q.S. Al Mujadalah:11]. Imam Asy Syaukani v dalam Fathul Qadir menjelaskan bahwa makna ayat tersebut adalah Allah mengangkat derajat orang yang beriman, sebagaimana Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. Namun keutamaan orang yang berilmu lebih tinggi dan mulia daripada orang yang beriman. Dan tatkala dua perkara ini bergabung dalam diri seseorang maka tercapailah derajat yang paling mulia. Nabi adalah manusia yang paling berilmu, pun demikian, Allah tetap perintahkan beliau ` untuk senantiasa memohon tambahan ilmu kepada-Nya. Bukan perkara dunia. Allah berfirman: “Dan katakanlah (wahai Nabi),’wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu.’” [Q.S. Thaha:114]. Imam Ibnu Hajar v dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa ayat ini sangat jelas menunjukkan keutamaan ilmu. Karena Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya ` untuk meminta tambahan dari sesuatu kecuali ilmu. Ayat tentang keutamaan ilmu yang lain sangat banyak. Adapun keutamaan ilmu yang disebutkan dalam hadits Rasulullah ` di antaranya adalah hadits Abu Darda’ z, Rasulullah ` bersabda, “Tidaklah seseorang keluar untuk menuntut ilmu kecuali para malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka untuknya. Ia akan dimudahkan jalan ke surga. Sesungguhnya makhluk yang ada di langit dan bumi sampai ikan di lautan memintakan ampun untuk seorang yang berilmu. Keutamaan seorang yang berilmu atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sedangkan para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham (harta dunia), tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambil warisan tersebut sungguh telah mengambil bagian yang banyak.” [H.R. Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi dan dishahihkan oleh Abul Asybal dalam Shahih Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi]. Dalam hadits yang mulia ini kita mengetahui sebagian keutamaan ilmu yang sangat banyak. Makhluk mulia yang tidak pernah bermaksiat dan selalu taat kepada Allah pun kagum terhadap penuntut ilmu. Sehingga mereka meletakkan sayapnya karena ridha, sebagaimana dijelaskan dalam sebagian riwayat hadits. Dimudahkannya jalan ke surga bagi penuntut ilmu, hal ini di samping merupakan keutamaan ilmu adalah anugerah yang sangat besar. Bagaimana tidak, kehidupan dunia yang sangat bising dan semrawut dengan syahwat dan syubhat atau kerancuan berpikir adalah godaan yang tidak mudah ditundukkan. Hanya orang yang Allah rahmati saja yang bisa selamat dari jeratannya. Oleh sebab itulah ketika Muadz bin Jabal z bertanya kepada Rasulullah ` tentang amalan yang bisa memasukan ke dalam surga, beliau ` menjawab, “Sungguh engkau telah bertanya tentang perkara yang besar.” [H.R. Ahmad, At Tirmidzi dan An Nasai, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib]. Ya, inilah kebaikan yang besar. Sangat besar bahkan. Taufik yang hanya Allah khususkan untuk hamba-hamba terpilih. Rasulullah ` bersabda, “Siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Allah akan karuniakan kepadanya pemahaman dalam agama.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Muawiyah bin Abi Sufyan z]. Keutamaan ilmu yang lain dari hadits Abu Darda’, bahwa makhluk-makhluk di bumi dan di langit akan memohonkan ampun untuk orang yang berilmu, sehingga rahmat dan kedamaian akan senantiasa menyertainya. Selalu didoakan oleh makhluk yang tidak pernah berdosa. Apalagi secara khusus Rasulullah ` menyebut majelis ilmu sebagai majelis penuh rahmat. Sebagaimana dalam sabda beliau `, “Tidaklah sekelompok orang berkumpul dalam salah satu rumah Allah, mereka membaca Al Quran dan mengkajinya kecuali akan turun ketenangan atas mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi-Nya.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah z]. Rasulullah ` menggambarkan ulama sebagai bulan purnama yang bersinar terang, memberikan cahayanya ke segala penjuru di kegelapan malam demikianlah, seorang yang berilmu senantiasa memberikan manfaat kepada sesama bahkan kepada alam sekitar. Ia menjadi orang yang penuh barakah, ini pun keutamaan yang besar. Kemudian pada penggalan hadits terakhir Rasulullah ` menegaskan bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi. Mereka mewarisi ilmu kemudian menggantikan peran nabi dalam berdakwah. Inilah sebaik-baik jalan. Allah berfirman, “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” [Q.S. Fushshiat:33]. Keutamaan ilmu sangat banyak. Bahkan Imam Ibnul Qayyim v dalam kitab beliau Miftah Darisa’adah menyebutkan lebih dari 150 keutamaan ilmu. Memang, keutamaan ilmu sangat banyak. Bahkan bukan hanya untuk manusia. Hewan pun akan dihargai karena ilmu. Allah berfirman, “Mereka menanyakan kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajari ilmu dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya’” [Q.S. Al Maidah:4]. Al Qurthubi dalam tafsir beliau menyebutkan penjelasan dari Adh Dhahak dan As Sudi bahwa maksud dari ‘binatang buas yang telah kamu ajari ilmu’ adalah anjing. Demikian pula pendapat ahli tafsir shahabat Abdullah bin Abbas x. Anjing yang air liurnya secara asal adalah najis, bahkan diperintahkan untuk mencuci bejana tujuh kali apabila terjilat, ketika sudah ada pengajaran ilmu berburu, maka anjing tersebut boleh dipelihara untuk tujuan berburu dan bekas gigitan pada buruannya tersebut tidak najis dan halal untuk dimakan. Hanya ilmu yang membedakan antara dua anjing ini. Demikian sedikit uraian tentang keutamaan ilmu syar’i, semoga bisa menggugah semangat kita untuk tetap terus belajar dan belajar. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua. Amiin. Allahu a’lam. [Farhan].

Muslim Wajib Belajar

June 20, 2011 |
 Manusia terlahir di dunia dalam keadaan yang lemah tidak mengetahui apapun. Allah mengingatkan kondisi kita kala itu dalam salah satu ayat-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati agar kalian bersyukur.” [Q.S. An Nahl:78]. Nikmat ini kemudian Allah dukung dengan kesehatan jasmani dan rohani. Allah berikan pula berbagai sarana pembelajaran seperti pendengaran, penglihatan, dan hati. Sehingga, manusia bisa belajar dari sekitarnya. Jadi, sifat asal manusia adalah bodoh tidak mengetahui apapun. Tidak mengerti untuk apa ia diciptakan, bagaimana ia hidup, dan mau kemana tujuan hidupnya. Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” [Q.S. Al Ahzab:72]. Karenanya, banyak orang yang tidak mengetahui kemaslahatan dan kebaikan sekalipun untuk dirinya sendiri di dunia, apalagi di akhirat. Oleh sebab itulah Allah Yang Maha Bijaksana menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para rasul-Nya untuk membimbing dan mengarahkan manusia. Hal ini untuk mengajarkan kepada mereka kemaslahatan sekaligus kemadharatan bagi manusia agar selamat dan berbahagia dalam menjalani kehidupan ini. Allah berfirman: “Allah mengajarkan kepada manusia perkara yang tidak ia ketahui.” [Q.S. Al Alaq:5]. Pengajaran Allah ini tentunya bisa didapatkan dengan usaha. Yakni, berusaha mengoptimalkan pemanfaatan nikmat sarana yang telah Allah karuniakan kepada manusia. Allah berfirman, “ Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai kalbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, adalah kalbu yang di dalam dada.” [Q.S. Al Hajj:46]. Kita bisa menggunakan mata untuk melihat tanda-tanda keagungan-Nya, telinga untuk mendengar ayat-ayat-Nya, serta kalbu untuk merenungi, memahami, dan menyakininya. Baik ayat kauniyah maupun syar’iyah. Ayat kauniyah berupa alam semesta dan ayat syar’iyah berupa firman-Nya berikut penjelasaan rasul-Nya `. Inilah ilmu yang hakiki. Yaitu bagaimana mengenal Allah, nama dan sifat-Nya, hak-hak-Nya atas hamba, mengenal Rasul-Nya, bimbingan dan petuah beliau serta mengenal agama-Nya. Diterangkan oleh Syaikh Abdurrahman As Sa’di dalam Bahjatul Qulub Al Abrar, bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membersihkan kalbu dan ruh. Ilmu yang berbuah kebahagian dunia dan akhirat. Yaitu ilmu yang dibawa oleh Rasulullah ` baik berupa hadits, tafsir, dan fiqih atau pemahaman. Termasuk pula ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa mendukung hal tersebut seperti bahasa arab dan yang lainnya. Sementara Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim menjelaskan bahwa pembelajaran yang paling sempurna adalah fokus dalam menimba ilmu warisan Nabi `. Konsentrasi dalam memahami maksud beliau dalam perintah, larangan, dan semua sabda beliau. Kemudian tunduk patuh mengikutinya tanpa mendahulukan perkataan siapa pun atas sabda beliau. Manusia tidak bisa tidak pasti membutuhkan ilmu ini, sejauh mana kebutuhannya terhadap keselamatan dan kebahagiaan hidup, sejauh itu pula kebutuhannya terhadap ilmu. Sehingga ilmu merupakan kebutuhan paling asasi melebihi kebutuhan sesorang terhadap makan dan minum. Karena makan dan minum dibutuhkan tubuh sekali atau dua kali dalam sehari. Sedangkan ilmu dibutuhkan oleh jiwa dan raga sepanjang tarikan nafasnya, seiring denyut nadinya, dan sejalan detak jantungnya. Seorang yang kekurangan makan dan minum hanya bermadharat terhadap raganya di dunia. Sedangkan kosongnya seseorang dari ilmu akan menghancurkan jiwa raganya di dunia sekaligus di akhirat. Demikian makna penjelasan Imam Ahmad, sebagaimana dinukilkan dari Syudzurat Adz Dzahab. Oleh sebab itulah, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mensyariatkan hamba-Nya untuk menuntut ilmu demi keselamatan hamba di dunia dan di akhirat. Marilah kita perhatikan bahwa Allah telah memerintahkan untuk berilmu terlebih dahulu sebelum segala sesuatu. Allah berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang benar untuk diibadahi selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” [Q.S. Muhammad:19]. Dalam ayat ini Allah memerintahkan dua perkara kepada Nabi-Nya `. Yang pertama perintah berilmu kemudian yang kedua perintah untuk beramal. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukaan ilmu didahulukan daripada amal, sekaligus menunjukkan pula bahwa ilmu adalah syarat keabsahan ucapan dan amalan. Artinya jika kita berucap atau beramal tanpa didasari ilmu maka tidak sah. Demikian sebagaimana disebutkan dalam Hasyiah Tsalatsatul Ushul. Berdalil dengan ayat ini pula Imam Al Bukhari membuat bab khusus dalam kitab Shahih beliau, ‘Bab mengilmui dahulu sebelum berucap dan beramal.’ Rasulullah ` juga bersabda dalam hadits Anas bin Malik z: طلب العلم فريضة على كل مسلم ”Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” [H.R. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At-Targhib]. Imam Ahmad v menjelaskan bahwa wajib atas setiap orang untuk menuntut ilmu yang bisa menegakkan agama. Yaitu ilmu yang tidak ada kelonggaran untuk tidak mengetahuinya, tentang shalatnya, puasanya dan yang semacamnya. Syaikh Muhammad At Tamimi menjelaskan, “Ketahuilah bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban. Ilmu adalah obat bagi hati yang sakit. Ketahuilah pula bahwa perkara terpenting bagi hamba adalah mengetahui agamanya, yang mana mengilmui dan mengamalkannya adalah sebab masuk ke dalam surga. Sebaliknya, kebodohan dan masa bodoh terhadap agama adalah sebab terjerumusnya seseorang ke dalam neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari neraka.” [Hasyiah Tsalatsatul Ushul]. Jelas bagi kita dari ayat dan hadits serta penjelasan para ulama di atas bahwa menuntut ilmu agama ini adalah wajib atas setiap individu. Ya, kita diciptakan Allah dengan segala fasilitas tentu mempunyai tujuan, bukan sia-sia. Tetapi untuk memurnikan peribadahan kepada-Nya semata, untuk memakmurkan bumi dengan ketaatan, serta meninggikan kalimat-Nya setinggi-tingginya. Semua ini bisa terwujud dengan berilmu terlebih dahulu sebelum segala melakukan sesuatu. Inilah jalan kebahagiaan dan keselamatan. Allahu a’lam. [Farhan].

ILMU BERBUAH BAHAGIA

June 20, 2011 |
 Ilmu ibarat pisau bermata dua. Barakahnya melimpah dunia akhirat ketika disyukuri, sebaliknya akan menjadi petaka yang tidak berakhir ketika dikufuri. Sebagaimana Rasulullah ` pernah mewanti-wanti, “Al Quran adalah hujah yang membelamu atau justru akan menuntutmu.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Malik Al Asy’ari z]. Al Quran justru akan menuntut seseorang apabila ilmu Al Quran yang ia miliki sekedar wawasan tidak diamalkan. Allah pun mencela mereka yang tidak mengamalkan ilmunya, celaan yang dibaca sepanjang zaman. Allah berfirman: “Apakah kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kalian berpikir?” [Q.S. Al Baqarah:44]. Syaikh As Sa’di menafsirkan bahwa walaupun ayat ini turun khusus pada Bani Israil, tetapi hukumnya umum untuk siapa saja yang tidak mengamalkan ilmunya. Berdasarkan firman Allah dalam surat Ash Shaff, “ Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kemurkaan Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” [Q.S. Ash Shaff:2,3]. [Taisir kariimirrahman]. Al Quran pula akan menyebabkan kesengsaraan apabila justru disalahgunakan untuk mengejar status sosial, reputasi, popularitas, dan seluruh tujuan duniawi yang lainnya. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah ` dalam hadits Abu Hurairah z, beliau bersabda, “Siapa menuntut ilmu yang seharusnya ilmu tersebut untuk mengharap wajah Allah (ilmu syar’i), ia tidaklah mempelajarinya kecuali sekedar untuk mendapatkan bagian duniawi saja, maka ia tidak akan mendapatkan wanginya bau surga pada hari kiamat.” [H.R. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah]. Ilmu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ` mengingatkan, “Tidak akan bergeser kaki anak adam dari Rabbnya pada hari kiamat, hingga ditanya tentang lima perkara: untuk apa umurnya dihabiskan, untuk apa masa mudanya dilewatkan, hartanya dari mana didapat dan kemana disalurkan, serta apa yang telah diamalkan dari ilmunya?” [H.R. At Tirmidzi, dari sahabat Abdullah bin Masud z dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah]. Dari beberapa dalil ini tegas menunjukkan bahwa ilmu harus diamalkan lahir dan batin. Seseorang yang berilmu haruslah tercermin dalam tingkah laku, akhlak, dan pergaulannya. Kepada siapa saja, kepada apa saja, dan di mana pun berada. Ketaatannya kepada Allah semakin meningkat, keimanan dan ketakwaannya semakin kuat, hubungannya kepada Allah Penciptanya semakin dekat. Ketundukan dan kepatuhannya terhadap bimbingan Rasulullah pun semakin nyata. Mengagungkan, memuliakan, semakin cinta dan rindu untuk bertemu dengan beliau `. Seorang yang berilmu akan semakin menghargai dan memuliakan para ulama, para ustadz, dan guru-guru mengajinya. Karena ia tahu bahwa kemuliaan ilmu yang ia miliki adalah nikmat yang Allah karuniakan melalui perantara mereka. Ia pun akan menghormati dan mencintai mereka sepenuh hati. Kesalahan yang mungkin terjadi dari mereka, ia sikapi sebagaimana mestinya. Ia mengingatkan dengan santun dan lemah-lembut, tanpa menyinggung perasaan, tanpa menyakiti. Kepada kedua orang tuanya, orang yang berilmu akan berbakti setulus hati. Ia akan selalu mengusahakan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat untuk keduanya sekuat tenaga. Demikian pula kepada yang lainnya, kepada istri, anak, saudara, kerabat, tetangga, sesama kaum muslimin, orang-orang kafir, bahkan kepada hewan sekalipun orang yang berilmu akan bersikap dan bergaul dalam timbangan ilmu. Sehingga orang sekitarnya akan ikut merasakan barakah ilmunya. Dengan akhlaknya yang mulia, dengan muamalahnya yang bijaksana, dan nasihat-nasihatnya yang berharga. Inilah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang menumbuhkan keimanan, ilmu yang berbuah amal shalih, ilmu yang orang lain bisa mengambil manfaat dari wasiat dan pengajarannya, ilmu yang mengokohkan kesabarannya. Sebagaimana firman Allah: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Q.S. Al ‘Ashr:1-3]. Dalam surat ini Allah menyebutkan bahwa keberuntungan dunia dan akhirat hanya didapat oleh orang yang memiliki empat sifat yang semuanya hanya bisa diwujudkan dengan ilmu syar’i. Ilmu yang bermanfaat inilah ilmu yang berbuah bahagia. Sebuah anugerah yang tidak ternilai dengan harta, tahta dan wanita. Sebagaimana firman-Nya, “Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [Q.S. Al Baqarah:269]. Imam Ibnu Qutaibah dan jumhur (mayoritas) ulama menafsirkan hikmah yang dimaksud adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sebagaimana yang dinukilkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Miftah Darissa’adah. Semoga Allah mengaruniai kita semua ilmu yang bermanfaat. Allahu a’lam. [farhan].

Islam Paling Mengerti Wanita

November 30, 2011 |
 Islam Paling Mengerti Wanita Wanita Sebelum Datangnya Islam Pada zaman sebelum datangnya Islam, kaum wanita sangat tertindas. Hal ini tidak hanya terjadi di Jazirah Arab, banyak negeri memberlakukan peraturan yang merendahkan harkat wanita. Aristoteles, ahli filsafat terkemuka dunia memiliki pendapat yang agak ‘nyeleneh’ mengenai wanita. Dia menyatakan bahwa wanita adalah “laki-laki yang belum lengkap”. Wanita digambarkan sebagai bagian yang lebih rendah daripada laki-laki. Sehingga, muncullah kesenjangan antara laki-laki dan wanita. Di Yunani kuno, wanita layaknya barang yang bisa diperjualbelikan dengan mudah. Wanita di sana tidak memiliki hak untuk mewarisi. Perempuan direndahkan di masyarakat itu. Sampai-sampai, mereka menganggap perempuan sebagai najis. Wanita di sana diperbudak dan diperjualbelikan tanpa memiliki kehendak sendiri. Bahkan, dalam urusan pernikahan, mereka tidak memiliki hak pilih. Tidak hanya itu, wanita dibunuh dan dianiaya merupakan hal yang biasa di sana. India memiliki pandangan lain tentang wanita. Mereka tidak memberikan hak hidup kepada wanita setelah kematian suaminya. Seorang wanita akan dibakar hidup-hidup apabila suaminya meninggal dunia. Istri yang dibakar hidup-hidup bersama suaminya yang sudah meninggal dianggap sebagai perempuan yang setia. Wanita di negeri Arab sebelum datangnya Islam pun tak kalah memilukan. Wanita pada waktu itu tidak mendapatkan warisan sedikit pun. Bahkan, mereka justru dianggap sebagai barang warisan yang akan diwarisi oleh anak tertua dari suaminya. Lebih ngerinya lagi, orang-orang Arab Jahiliah menganggap bahwa memiliki anak perempuan adalah aib yang besar sehingga sebagian mereka pun menutupinya dengan mengubur hidup-hidup anak mereka jika ternyata istrinya melahirkan anak perempuan. Allah ta’ala berfirman mengenai hal ini: ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊﮋ “Dan jika mereka diberi kabar gembira dengan anak perempuan, wajahnya menghitam dan menahan marah. Dia menutup diri dari kaumnya karena jeleknya apa yang dikabarkan kepadanya. (Dia ragu) apakah membiarkannya hidup tetapi dia dalam kehinaan ataukah dia masukkan ke dalam tanah (mengubur hidup-hidup).” [Q.S. An-Nahl:58-59]. Nah, inilah sedikit gambaran keadaan wanita di beberapa tempat di belahan bumi. Mereka direndahkan, dianiaya, dizalimi, dan didiskriminasi. Saat Islam Datang Islam pun datang membawa cahaya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Islam membawa persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan secara proporsional. Di antara bentuk-bentuk kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di dalam Islam itu adalah: Kesamaan dalam derajat asal antara laki-laki dan perempuan Allah ta’ala berfirman mengenai derajat manusia secara umum: “Wahai manusia, Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, serta Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” [Q.S. Al-Hujurat:13]. Allah menjadikan ukuran kemuliaan manusia bukanlah diukur dari jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Tapi, Allah menjadikan ukuran kemuliaan adalah dari ketakwaan yang ada di dalam hati kita dan tercermin dalam amalan kita. Kesamaan dalam hak hidup Islam memberikan wanita hak untuk hidup. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengubur anak-anaknya baik laki-laki ataupun perempuan. Allah berfirman dalam rangka mengingkari perbuatan penguburan wanita hidup-hidup yang artinya, “Dan ketika wanita yang dikubur hidup-hidup bertanya.(*) Dengan sebab apa dia dibunuh.” [Q.S. At-Takwir:8-9]. Kesamaan hak milik dan membelanjakan hartanya Agama Islam mengakui hak milik bagi wanita dan bolehnya mereka bertransaksi. Allah menegaskan wanita berhak menerima warisan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memilik hak milik yang diakui. Allah berfirman yang artinya, “Allah mewasiatkan kalian dalam hal anak-anak kalian. Laki-laki mendapatkan seperti dua bagian perempuan.” [Q.S. An-Nisa`:11]. Wanita dalam Islam memiliki hak untuk berjual beli, bersedekah, memberi, dan lainnya. Mereka memiliki hak kepemilikan secara utuh. Kesamaan dalam mendapatkan ilmu Imam Al-Bukhari v meriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z, bahwasanya para sahabat wanita mengeluhkan kepada Nabi ` mereka tidak mendapatkan bagian yang cukup untuk mempelajari agama, maka Rasulullah ` pun menjadwalkan waktu khusus untuk mengajari mereka. Wanita memiliki hak untuk memutuskan tali perkawinan Dalam agama Islam, wanita memiliki hak memutuskan tali perkawinan yang disebut dengan khulu’. Imam Al-Bukhari v meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas c bahwasanya istri Tsabit bin Qais mengeluh kepada Rasulullah `, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit pada agama atau akhlaknya, tapi aku tidak kuat bersamanya.” Rasulullah ` pun menjawab, “Apakah engkau mau mengembalikan kebunnya (yang dahulunya sebagai mahar)?” Dia pun mengatakan, “Ya.” Kejadian ini adalah awal dari disyariatkannya khulu’ di dalam Islam. Wanita berhak untuk menentukan dengan siapa dia menikah Rasulullah ` bersabda: لاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ ، وَلاَ الثَّيِّبُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ “Tidak boleh dinikahi seorang gadis hingga dimintai izin, dan seorang janda hingga dimintai pendapat.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana izinnya seorang gadis?” Beliau ` pun menjawab, “Izinnya adalah diam (karena biasanya gadis malu untuk menjawab secara tegas).” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Kesamaan dalam pahala beramal Imam At-Tirmidzi v meriwayatkan bahwasanya Ummu ‘Amirah Al-Anshariyah x mengatakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, kenapa para laki-laki yang disebutkan di dalam Al-Quran, sedangkan para perempuan tidak disebutkan?” Allah pun menurunkan ayat-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya muslimin laki-laki dan perempuan, mukminin laki-laki dan perempuan, orang yang senantiasa taat dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang jujur dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang sabar dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang khusyu’ dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang bersedekah dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang yang puasa laki-laki dan perempuan, orang yang menjaga kemaluannya dari kalangan laki-laki dan perempuan, dan orang yang banyak berdzikir kepada Allah dari kalangan laki-laki dan perempuan Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” [Q.S. Al-Ahzab:35]. [H.R. At-Tirmidzi, sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v]. Emansipasi, Apakah Solusi? Kini, muncullah sebuah konsep baru dalam membebaskan kaum wanita. Konsep yang dicetuskan oleh kaum barat ini dinamakan dengan emansipasi wanita. Sayangnya, pergerakan ini cenderung kebablasan sehingga justru malah mengabaikan kodrat wanita sebagai wanita itu sendiri. Ironisnya, bombardir berita di media masa ikut serta dalam melariskan kerancuan yang diusung oleh pegiatnya. Mereka memberi andil dalam mengesankan emansipasi sebagai jalan satu-satunya bagi wanita untuk merdeka. Gerakan ini menuntut adanya kesamaan antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang. Faktanya, wanita memiliki fisik dan mental yang berbeda dengan lelaki yang akan sangat berpengaruh kepada kinerja masing-masing gender. Masing-masing memiliki bidang kerja tersendiri sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, cukuplah pelajaran bagi kita, negara yang memberi memberi hak emansipasi wanita justru memiliki angka kriminalitas lebih tinggi, baik kriminalitas secara umum ataupun kasus perendahan harkat wanita -seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, dan lain-lain- secara khusus. Degradasi moral pun dijumpai hampir setiap penjuru negeri. Hal ini menunjukkan bahwa emansipasi dengan paham ini justru akan menjerumuskan wanita ke dalam jurang bahaya yang lebih besar. Maka, dapatlah disimpulkan bahwasanya sistem yang paling cocok dalam membebaskan wanita adalah sistem agama Islam. Agama ini memberikan pembebasan yang bertanggung jawab, sesuai dengan kodrat, fisik, dan mentalnya. Nyatalah dengan ini, betapa bijaksananya syariat Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui maslahat hamba-Nya. Allahu a’lam bish shawab. (abdurrahman)

Pendidikan Keluarga

June 20, 2011 |
 Wanita dan Keluarga | Posted by: webmaster Hasil Ujian Nasional baru saja diumumkan. Ada yang gembira karena lulus, ada juga yang bersedih karena gagal lulus. Padahal oleh masyarakat, lulus atau tidaknya siswa dalam ujian, sering dianggap sebagai “faktor terpenting yang menentukan masa depan”. Mereka yang tidak lulus sering dianggap masa depannya suram. Sehingga akhir-akhir ini kita sering mendengar siswa yang tidak lulus ujian merasa frustasi, histeris, hingga ada yang bunuh diri. Suatu tindakan berlebihan yang mencerminkan sudah tidak adanya lagi yang diharapkan dari hidup ini. *** Pembaca yang dirahmati Allah… Kebutuhan manusia akan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang mutlak. Dahulu, sebelum adanya lembaga-lembaga pendidikan formal seperti sekolah, anak-anak dididik oleh orang tua masing-masing. Pada perkembangannya, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kesibukan orang tua menyebabkan mereka tidak mampu lagi mengajar. Orang tua lalu menitipkan anaknya pada seseorang atau lembaga yang dianggap pandai. Lembaga pendidikan inilah yang lalu diistilahkan dengan “almamater” yang berarti ibu yang memberikan ilmu, yang saat ini menjelma menjadi sekolah. Konsep pendidikan pada masyarakat modern lambat laun menjadi bergeser. Pendidikan yang tadinya bertumpu pada keluarga, sekarang menjadi bertumpu pada sekolah. Bukan hanya transfer ilmu, sekolah juga dijadikan sebagai tumpuan utama dalam pendidikan karakter, akhlaq, dan spiritual. Dengan alasan sudah dibayar, sekolah menjadi pihak yang paling sering disalahkan bila terjadi permasalahan dalam proses belajar sang anak. Padahal rata-rata porsi pendidikan agama yang ada di sekolah umum sekarang amat sedikit. Tidak mungkin siswa mengenal Tuhannya, mengenal Nabinya, dan mengenal agamanya, jika pelajaran agama hanya sekitar 2 jam tiap pekan. Disinilah fungsi pendidikan keluarga menjadi sangat penting. Anak bisa membaca Al Quran bukan karena dia sekolah, tapi karena keluarganya yang mengajarinya. Keluarganyalah yang berperan mengajaknya ke masjid untuk sholat berjamaah. Keluarga jugalah yang membangunkan dia untuk bangun sahur untuk latihan berpuasa sejak dini. Sehingga, agama tidak hanya menjadi teori hapalan semata, namun diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dicontohkan dalam kehidupan keluarga. Masalah tidak hanya pada sedikitnya pendidikan agama, namun padatnya jadwal sekolah ditambah kegiatan ekstrakurikuler atau ikut bimbingan belajar, juga membuat mayoritas kehidupan anak menjadi di luar rumah. Dia jadi kurang mengenal lingkungan sekitar rumahnya. Jangan heran jika anak sekarang tidak hapal nama tetangga atau nama Ketua RTnya sendiri. Beberapa orang tua mengeluh, “Anak saya jarang membantu pekerjaan rumah, padahal saya repot mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Sementara dia kelihatan sibuk sekali dengan HP dan komputernya. Saya jadi enggan menegurnya”. Keluhan ini menunjukkan bagaimana kesibukan anak di luar keluarga, sampai menghilangkan kepekaan terhadap lingkungan keluarganya sendiri. Dia tidak merasa sungkan lagi ketika orang yang berada di dekatnya kesusahan. Rasa bakti terhadap orang tua dan keluarga lama-lama menjadi pudar. Allah l berfirman, “Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu” [QS. An Nisaa’ : 36] Namun bukan berarti bahwa sekolah itu buruk. Hanya saja, pendidikan dalam keluarga tetaplah yang paling utama. Sekolah hanya mengajari teori-teori seperti matematika, bahasa, dan sains, tidak mengajarkan bagaimana menyelesaikan persoalan dalam kehidupan. Sehingga jangan heran jika sekarang banyak siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran fisika namun tidak mengerti bagaimana membetulkan genteng yang bocor, atau siswi yang cerdas dalam biologi tapi tidak bisa memasak. Pembaca yang dirahmati Allah… Pendidikan keluarga haruslah mampu menanamkan kecintaan anak terhadap ilmu. Sehingga, dalam proses belajar, ia tidak merasa terpaksa. Ia belajar karena ia menyukainya. Kegagalan dalam proses belajar bukanlah sesuatu yang memalukan, selama ia belajar sungguh-sungguh. Mencontek merupakan salah satu perbuatan buruk yang timbul karena anak tidak menghargai ilmu. Apabila belajar dipahami sebagai proses mencari ilmu bukan hanya mencari nilai, maka perbuatan mencontek tidak akan terjadi. Dan tindakan bunuh diri akibat kegagalan dalam Ujian Akhir, juga tidak akan terjadi. Karena anak tahu, bahwa dia tidak lulus karena memang belum paham dengan ilmunya, sehingga ini justru memacunya untuk kembali belajar. Pendidikan keluarga juga harus mampu mengembangkan jiwa sosialnya. Melalui keteladanan orang tua, anak diajari tentang akhlaq yang baik. Dia belajar untuk perhatian dengan lingkungan sekitarnya, terbiasa tegur sapa dengan tetangganya. Juga ajarkan anak untuk ikut aktif dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga, menyelesaikan permasalahan yang timbul di sekitar rumah. Karena hal-hal kecil dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga inilah yang sejatinya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dia kelak. Ini juga akan melatih mentalnya, sehingga ia akan memiliki daya juang, tidak malas dan kendur dalam menghadapi problema hidup di kemudian hari. Dan yang paling penting, bahwa pendidikan keluarga haruslah berbasis agama yang mampu mendekatkan anak dengan Allah l. Keluarga harus berupaya agar tiap anggota keluarganya, terutama anak melaksanakan perintah Allah l. Pendidikan agama sedari kecil, mulai dari membaca Qur’an, menghapal doa-doa harian, belajar cara wudhu dan sholat, akan menanamkan benih-benih tauhid. Sehingga ia tahu untuk apa ia diciptakan. Ia tahu apa yang harus dia lakukan. Dan ia tahu, kepada siapa dia meniatkan aktifitasnya sehari-hari. Allah l berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” [QS. At Tahrim : 6] Semoga Allah l menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang sholih dan sholihah, yang berbakti kepada orang tuanya. Wallahu alam bish showwab (Ristyandani)

HUKUM SHOLAT JUMAT (BAG II) KHUTBAH JUMAT DAN AMALAN SETELAH SHOLAT JUMAT

January 30, 2012
 Oleh Ustasd Kharisman (Disampaikan Ba’da Isya’ di Masjid AnNuur Perum PJB Paiton Rabu malam Kamis 20 Dzulhijjah 1430 H/ 9 Desember 2009) 1. Apakah khutbah Jumat adalah syarat pelaksanaan Ibadah Sholat Jumat? Jawab: Ya, khutbah Jumat 2 kali sebelum sholat (Jumat) adalah syarat sah pelaksanaan ibadah sholat Jumat. karena Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam ibadah sholat Jumat tidak pernah meninggalkannya. Pendapat yang menyatakan bahwa khutbah Jumat adalah syarat dalam pelaksanaan ibadah sholat Jumat adalah pendapat Imam 4 madzhab (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad) yang hampir merupakan ijma’ (kesepakatan) seluruh Ulama’. Hanya Hasan al-Bashri yang menyelisihi pendapat tersebut. ( Bisa dilihat pada Khutbatul Jum’ah wa Ahkaamuhal Fiqhiyyah karya Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdillah al-Juhailaan dengan taqdim dari Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh). عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا فَمَنْ نَبَّأَكَ أَنَّهُ كَانَ يَخْطُبُ جَالِسًا فَقَدْ كَذَبَ فَقَدْ وَاللَّهِ صَلَّيْتُ مَعَهُ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفَيْ صَلَاةٍ “Dari Jabir bin Samurah bahwasanya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dalam keadaan berdiri kemudian beliau duduk kemudian berdiri berkhutbah. Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa beliau duduk ketika berkhutbah, sungguh ia telah berdusta. Demi Allah aku telah sholat bersama beliau lebih dari 2000 sholat” (H.R Muslim) 2. Bagaimana tata cara khutbah Jumat? Jawab: Jika Khotib telah datang, maka ia naik ke atas mimbar mengucapkan salam menghadap ke arah hadirin, kemudian duduk. Selanjutnya muadzin mengumandangkan adzan Jumat sampai selesai. Kemudian Khotib mulai berkhutbah dengan suara keras dalam keadaan berdiri. Dimulai bacaan pujian kepada Allah, bersholawat kepada Nabi. Inti dari materi khutbah adalah memberikan peringatan dan nasehat yang menyentuh dan menggerakkan hati para hadirin untuk semakin takut, ingat, dan bersyukur kepada Allah. Akan lebih baik jika pada khutbah tersebut terdapat hal-hal berikut: a. Anjuran untuk bertaqwa kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala b. Membaca meski cuma satu ayat AlQuran c. Berdoa untuk pemerintah dan kaum muslimin secara umum (pada khutbah ke-2) Khutbah dilakukan 2 kali, dipisahkan dengan duduk di antaranya. Khotib hendaknya bertumpu/ berpegangan pada suatu tongkat atau semisalnya ; شَهِدْنَا فِيهَا الْجُمُعَةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ طَيِّبَاتٍ مُبَارَكَاتٍ “Kami mengikuti sholat Jumat bersama Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, beliau berdiri dengan bersandar pada tongkat atau busur panah, kemudian beliau memuji Allah dan memujaNya, menyampaikan kalimat-kalimat yang ringan, baik, dan banyak keberkahan (H.R Abu Dawud dari al-Hakam bin Hazn, al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan, dishahihkan oleh Ibnus Sakan dan Ibnu Khuzaimah). Semestinya khotib juga menghadapkan wajahnya ke arah depan, tidak banyak menoleh ke arah kanan atau kiri, tidak banyak menggerakkan atau memberi isyarat dengan tangannya. Khotib hendaknya menjauhi penyampaian materi khutbah yang tidak ada kaitannya dengan tujuan khutbah Jumat diadakan. Khutbah juga tidak semestinya terlalu panjang sehingga membosankan, tidak pula terlalu pendek sehingga tidak ada faidah ilmu dan penambahan iman bagi jamaah. 3. Apakah diharuskan membaca doa pada saat khutbah? Jawab: Tidak diharuskan membaca doa pada saat khutbah, namun disunnahkan. Pada saat berdoa dalam khutbah, seorang Khotib tidak diperbolehkan mengangkat tangan sebagaimana dalam doa-doa lainnya, namun sekedar memberi isyarat dengan jari telunjuk. عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ أنه رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ (زاد أبو داود : وَهُوَ يَدْعُو فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ) فَقَالَ: ( قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ (رواه مسلم وأبو داود) Dari Umaroh bin Ruaybah bahwasanya ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tangannya ketika berada di atas mimbar (dalam lafadz Abu Dawud: ‘pada saat berdoa hari Jumat), maka beliau berkata: Semoga Allah menjelekkan kedua tangan tersebut, sungguh aku telah melihat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah menambah kecuali hanya begini (beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk” (H.R Muslim dan Abu Dawud). Imam anNawawi berkata: Dalam hadits ini terkandung dalil bahwa yang disunnahkan pada saat berdoa dalam khutbah adalah tidak mengangkat tangan. Ini adalah pendapat Malik dan Sahabat-sahabat kami (madzhab Asy-Syafi’i). Namun, untuk pelaksanaan doa pada istisqo’ yang bertepatan dengan Jumat, maka disunnahkan mengangkat tangan bagi Imam ketika berdoa sesuai hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik. Hadits tersebut menunjukkan disyariatkannya berdoa dalam khutbah, terbukti dengan persaksian Umaroh bin Ruaybah bahwa ia pernah melihat Nabi berdoa mengisyaratkan dengan jari telunjuk pada saat berkhutbah. Sedangkan hadits yang menyatakan bahwa Nabi senantiasa berdoa untuk kaum mukminin dan mukminat pada setiap khutbah Jumat adalah hadits lemah riwayat al-Bazzar. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan kelemahan itu dalam kitab Bulughul Maram. Karena hadits tersebut lemah, maka membaca doa dalam khutbah bukanlah suatu keharusan (bukan rukun ataupun kewajiban khutbah). 4. Apakah khutbah Jumat harus dalam bahasa Arab? Jawab: Khutbah Jumat tidak harus menggunakan bahasa Arab jika memang para hadirin adalah orang-orang yang tidak memahami pembicaraan dalam bahasa Arab. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : مَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ “Tidaklah kami mengutus Rasul kecuali dengan menggunakan bahasa kaumnya untuk menjelaskan kepada mereka” (Q.S Ibrahim:4) Namun untuk ayat-ayat AlQur’an yang dibaca, seharusnya membaca sebagaimana lafadz aslinya, barulah kemudian diterjemahkan. Tidak seperti sebagian khotib yang membaca ayat-ayat AlQuran hanya dengan terjemahannya saja (disarikan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’). 5. Seseorang yang baru datang pada saat Imam sudah naik ke atas mimbar, apa yang seharusnya dia lakukan? Jawab: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا “Jika datang seseorang pada hari Jumat, sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka hendaknya dia sholat 2 rokaat dan meringkasnya” (H.R Muslim) Al-Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad berdalil dengan hadits ini bahwa seseorang yang masuk masjid dalam keadaan Imam sedang berkhutbah, maka hendaknya ia sholat tahiyyatul masjid terlebih dahulu. Jika seseorang tiba di masjid saat telah dikumandangkan adzan pada saat Imam sudah di atas mimbar, hendaknya ia segera sholat 2 rokaat, tidak menunggu selesainya adzan, karena yang lebih diutamakan adalah upaya agar bisa menyimak khutbah dari sejak awal (Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan). Adapun jika datangnya pada saat adzan pertama, tidak mengapa ia menunggu dan menjawab ucapan muadzin sampai selesai sebagaimana terdapat keutamaan mengucapkan ucapan sebagaimana ucapan muadzin, kemudian barulah ia melakukan sholat 2 rokaat tahiyyatul masjid dengan ringkas. إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana ucapan muadzin” (Muttafaqun ‘alaih). 6. Apa saja yang harus dan yang tidak boleh dilakukan oleh hadirin yang mendengarkan khutbah Jumat? Jawab: يَحْضُرُ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَةٌ فَرَجُلٌ حَضَرَهَا يَلْغُو فَذَاكَ حَظُّهُ مِنْهَا وَرَجُلٌ حَضَرَهَا بِدُعَاءٍ فَهُوَ رَجُلٌ دَعَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُ وَرَجُلٌ حَضَرَهَا بِإِنْصَاتٍ وَسُكُوتٍ وَلَمْ يَتَخَطَّ رَقَبَةَ مُسْلِمٍ وَلَمْ يُؤْذِ أَحَدًا فَهِيَ كَفَّارَةٌ إِلَى الْجُمُعَةِ الَّتِي تَلِيهَا وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ { مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا }(رواه أحمد, وأبو داود, وابن خزيمة و البيهقي ) “Tiga macam orang yang hadir pada sholat Jumat: (pertama) seseorang yang hadir dalam keadaan melakukan hal-hal yang sia-sia, maka itulah bagiannya (kesia-siaan), (kedua) seseorang yang hadir Jumat dengan berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla, jika Allah kehendaki, Allah beri, jika Allah kehendaki Allah tahan (terkabulnya doa tsb), dan (ketiga) seseorang yang hadir dalam keadaan diam dan tenang dan tidak menyeruak dan memisahkan di antara dua muslim yang duduk, dan tidak menyakiti siapapun, maka itu adalah penebus dosa sampai Jumat selanjutnya dengan tambahan 3 hari, karena Allah berfirman: barangsiapa yang berbuat satu kebaikan, maka ia mendapat 10 kali lipat semisalnya (Q.S al-An’aam:160)(H.R Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan alBaihaqy, dihasankan oleh Syaikh al-Albaany). Yang harus dilakukan oleh orang yang menghadiri Jumat adalah dia diam dan mendengarkan khutbah dengan baik. Sedangkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan: Tidak boleh ia berbicara kepada siapapun, termasuk menyuruh diam orang yang berbicara, membalas salam hadirin yang baru datang, atau mengucapkan yarhamukallaah ketika ada yang bersin, tidak boleh menyibak di antara 2 orang (melangkahi pundak hadirin yang duduk). Tidak boleh pula menyakiti jamaah yang lain, dalam bentuk apapun, seperti menduduki sebagian pakaian atau anggota tubuh jamaah yang lain, atau menimbulkan bau tubuh/ pakaian yang tidak sedap, dan gangguan-gangguan yang lain (Lihat Aunul Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud). Dalam kondisi mendesak atau dibutuhkan hadirin/ makmum boleh berbicara untuk kemaslahatan, seperti membenarkan bacaan Khotib yang salah dalam membaca ayat al-Quran yang berakibat kesalahan makna. Demikian juga, boleh bagi Imam untuk berbicara kepada seorang hadirin untuk suatu kemaslahatan, misalkan jika pengeras suara mengalami gangguan dan perlu sedikit pembenahan (penjelasan Syaikh al-Utsaimin dalam Syarhul Mumti’) 7. Jika Khotib menyebutkan tentang Nabi, apakah makmum juga disunnahkan membaca sholawat? Jawab : Syaikh Bin Baz menjelaskan bahwa tidak mengapa seseorang makmum mengaminkan doa atau mengucapkan sholawat pada saat mendengar khutbah jika disebutkan nama Nabi. karena hal itu bukan termasuk laghwun (kesia-siaan), namun dengan suara yang tidak keras. Jika ia diam, juga tidak mengapa. karena saat khutbah adalah saat yang diperintahkan makmum untuk diam dan menyimak. Yang dilarang adalah mengaminkan dan membaca sholawat dengan suara yang keras (Majmu’ Fataawa Bin Baz juz 30 halaman 242). 8. Apakah jika Khotib membaca doa, makmum yang mendengarkan doa juga mengaminkan dan mengangkat tangan? Jawab: Makmum mengaminkan dengan suara yang cukup didengar oleh dirinya sendiri (tidak dikeraskan) dengan tidak mengangkat tangan (penjelasan Syaikh Sholih alFauzan dalam al-Mulakhkhosh al-Fiqhiy) Demikian juga penjelasan Imam anNawawi dalam Syarh Shohih Muslim 9. Seseorang mengantuk ketika mendengarkan khutbah, apakah ia harus berwudlu’ lagi? Apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tersebut? Jawab: Mengantuk bisa membatalkan wudlu’, bisa juga tidak membatalkan. Batasannya adalah: jika dalam kondisi mengantuk tersebut ia sempat tertidur sampai jika seandainya ia berhadats, ia tidak merasakan, maka mengantuk yang demikian membatalkan wudlu’ (pendapat Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, dinukil Syaikh al-Utsaimin dalam Syarhul Mumti’). Seseorang yang mengantuk sebaiknya berpindah tempat selama masih memungkinkan untuk berpindah dan perpindahan itu tidak mengganggu orang lain dan tidak menyibak/melangkahi pundak orang yang duduk. عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ Dari Ibnu Umar dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Jika salah seorang dari kalian mengantuk pada hari Jumat, maka hendaknya berpindah dari tempat duduknya tersebut” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, adz-Dzahaby menyatakan bahwa hadits tersebut sesuai dengan syarat (Imam) Muslim). 10.Apakah sebaiknya Khotib merangkap sebagai Imam, atau Imam sholat adalah Imam rowatib pada masjid tersebut? Jawab: Sebaiknya Khotib adalah juga sebagai Imam jika hal tersebut memang dimaklumi oleh Imam rowatibnya, karena memang dalam hadits-hadits yang shohih, Nabi menyebut khotib yang berkhutbah sebagai Imam. di antaranya pada hadits-hadits: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا “Jika datang seseorang pada hari Jumat, sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka hendaknya dia sholat 2 rokaat dan meringkasnya” (H.R Muslim) إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ “Jika engkau berkata kepada temanmu : ‘diamlah’, pada hari Jumat sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka engkau telah melakukan kesia-siaan” (Muttafaqun ‘alaih) Namun jika Imam rowatib berpendapat bahwa dialah yang lebih berhak untuk menjadi Imam, karena keumuman dalil yang ada. janganlah seseorang khotib memaksakan dirinya untuk menjadi Imam sholat Jumat, karena Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: لَا يُؤَمُّ الرَّجُلُ فِي سُلْطَانِهِ “Janganlah seseorang diimami dalam kekuasaannya (tanpa seijinnya)”(H.R atTirmidzi, anNasaai). 11. Bagaimana tata cara sholat Jumat? Jawab : Sholat Jumat adalah 2 rokaat setelah dilakukan 2 kali khutbah Jumat, dengan tata cara seperti sholat 2 rokaat yang lain, hanya saja bacaan Al-Fatihah dan surat AlQuran yang dibaca Imam dibaca dengan suara keras (jahriyyah). 12. Surat apa yang disunnahkan dibaca dalam sholat Jumat? Jawab: Surat yang disunnahkan dibaca dalam sholat Jumat adalah : a. Surat al-Jumu’ah pada rokaat pertama dan surat al-Munafiquun pada rokaat kedua (hadits riwayat Muslim dari Ibnu Abbas), atau b. Surat al-A’laa (Sabbihisma Robbikal A’la) pada rokaat pertama dan al-Ghosyiyah pada rokaat kedua (hadits riwayat Muslim dari an-Nu’man bin Basyiir) Kalau seandainya Imam membaca selain surat-surat tersebut, tidak mengapa. 13. Bagaimana jika seseorang masbuq atau ketinggalan sholat Jumat, apa yang harus dilakukannya? Jawab: Seseorang yang masbuq dalam sholat Jumat ada beberapa keadaan: a. Dia mendapati Imam dalam keadaan ruku’ di rokaat pertama, atau mendapati Imam dalam keadaan sebelumnya (sempat mendapatinya dalam keadaan berdiri), maka ia salam bersama Imam. b. Dia mendapati Imam sudah melewati masa bangkit ruku’ menuju I’tidal di rokaat pertama sampai pada keadaan Imam belum bangkit dari ruku’ di rokaat kedua, maka ia menambah kekurangan sholatnya 1 rokaat. c. Di mendapati sholat dalam keadaan Imam sudah melewati masa bangkit ruku’ di rokaat kedua maka ia tidak terhitung mendapatkan 1 rokaat pun bersama Imam, sehingga setelah alami a tambah 4 rokaat. Ibnu Mas’ud menyatakan: مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْجُمُعَةِ فَلْيُصَلِّ إِلَيْهَا أُخْرَى ، وَمَنْ لَمْ يُدْرِكَ الرُّكُوعَ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا “Barangsiapa yang mendapati satu rokaat Jumat hendaknya ia sholat (kekurangan rokaat) yang lain. Barangsiapa yang tidak mendapatkan ruku’, hendaknya ia sholat 4 rokaat”(riwayat Ibnu Abi Syaibah). 14. Apakah ada sholat sunnah setelah sholat Jumat? Berapa rokaat? Jawab: Ya, jika seseorang sholat sunnah setelah sholat Jumat di masjid maka ia lakukan 4 rokaat dengan 2 salam, sebagaimana hadits: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا Dari Abu Hurairah beliau berkata Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika salah seorang dari kalian sholat Jumat, maka hendaknya ia sholat setelahnya 4 rokaat (H.R Muslim). Jika ia melakukannya di rumah (sepulang dari masjid) maka hendaknya ia lakukan 2 rokaat ; عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ Dari Ibnu Umar beliau berkata adalah Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat setelah Jumat dua rokaat di rumahnya (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ahmad. Al-Iraqy menyatakan bahwa sanad haditsnya shahih). Pembagian keadaan 4 rokaat jika di masjid dan 2 rokaat jika di rumah tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan dinukil oleh Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’aad. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat: siapa yang mau, ia bisa melakukan 2 rokaat, atau 4 rokaat, atau 6 rokaat. Mana saja yang ia pilih, itu sesuai dengan yang pernah dilakukan Nabi (Lihat Taudhihul Ahkaam karya Syaikh Aalu Bassam juz 2 halaman 235) 15. Apakah setelah sholat Jumat disunnahkan membaca AlFatihah 7x, al-Ikhlas 7x, al-Falaq 7x, dan anNaas 7x ? Jawab: Terdapat suatu hadits yang menyatakan: من قرأ بعد صلاة الجمعة : قل هو الله أحد ، و قل أعوذ برب الفلق ، و قل أعوذ برب الناس سبع مرات ، أعاذه الله عز وجل من السوء إلى الجمعة الأخرى Barangsiapa yang membaca setelah selesai sholat Jumat: Qul huwallaahu Ahad, Qul A’udzu birobbil falaq dan Qul A’udzu birobbinnaas 7 kali Allah akan melindunginya dari keburukan sampai Jumat selanjutnya (riwayat IbnusSunni dalam Amalul Yaum Wallailah dari Aisyah). Namun hadits ini lemah, sebagaimana diisyaratkan oleh AlHafidz Ibnu Hajar. Di dalam perawinya ada al-Kholil bin Murroh yang sangat lemah dan dikatakan sebagai munkarul hadits oleh Imam AlBukhari. Hadits ini juga tidak bisa dikuatkan dengan jalur lain yang mursal dari Makhul. Karena selain kemursalannya, terdapat perawi Farj bin Fadholah yang dinyatakan juga munkarul hadits oleh Imam AlBukhari serta Ibnu Hibban menyatakantidak boleh berhujjah dengannya. Karena itu, tidak disunnahkan membaca bacaan tersebut. Syaikh Sholih al-Fauzan menjelaskan bahwa bacaan dzikir yang disunnahkan dibaca selepas sholat Jumat adalah sebagaimana bacaan dzikir selepas sholat fardlu yang lain. Wallaahu A’lam . Filed in: Fiqih

  © Blogger templates addiinradio by Ourblogtemplates.com 2008

Kembali ke Atas